Menelusuri Jejak Keturunan MUFTI BETAWI (AL-HABIB UTSMAN BIN YAHYA)

Menelusuri Jejak Keturunan MUFTI BETAWI (AL-HABIB UTSMAN BIN YAHYA)

www.majalah-alkisah.comAyah Habib Utsman adalah Habib Abdullah bin Agil bin Umar Bin Yahya. Sang ayah, Abdullah, dan kakeknya, Aqil, lahir di Makkah. Se­dang kakek ayahnya, Umar, lahir di Hadhramaut, tepatnya di Desa Qarah Asy Syaikh, yang kemudian hijrah dan wafat di kota Madinah.
Mengenai kakek Habib Utsman, Say­yid Agil bin Umar, informasi dari ca­tatan yang disampaikan oleh Snouck Hurgronje menjelaskan, ia seorang yang cukup terhormat di Makkah. Ia wafat di sana pada tahun 1238 H/1823 M. Ke­dudukannya sebagai syaikh as-sadah (pemuka kaum sayyid) di kota Makkah disandangnya selama 50 tahun.
Ketokohan Sayyid Agil bin Umar mem­buat sejumlah individu keluarga Bin Yahya keturunannya, khususnya yang bermukim di kota Makkah, dinisbahkan kepadanya, sehingga di belakang nama mereka kerap disebut ”Bin Agil” atau ”Agil” saja. Sebagian orang mungkin me­nyangka bahwa mereka keluarga dari qa­bilah Bin Agil Assegaf. Padahal bu­kan, mereka adalah keluarga Bin Yahya, yaitu keturunan Sayyid Agil bin Umar Bin Yahya, tokoh pemuka kaum sayid kota Makkah abad ke-19.
Adapun di Hadhramaut, ketika kita mendapati nama seorang ulama besar yang menjadi mufti kota Ta’iz, yaitu Habib Ibrahim Bin Agil, ia pun bukan bagian dari keturunan keluarga Agil bin Umar Makkah, bukan pula dari Bin Agil As­segaf, tapi ia cucu Sayyid Agil bin Abdul­lah bin Umar Bin Yahya. Kakek­nya, yaitu Sayyid Agil bin Abdullah bin Umar Bin Yahya, juga seorang tokoh ula­ma besar di masanya, sehingga nama­nya kerap menjadi nisbah bagi se­bagian keturun­annya. Nasab Habib Ibrahim sendiri ada­lah Ibrahim bin Umar bin Agil bin Abdul­lah bin Umar Bin Yahya. Jadi, Bin Agil-nya Habib Ibrahim ini berbeda lagi de­ngan keluarga Agil asyraf (sadah) Makkah.
Sayyid Agil bin Umar juga mempu­nyai banyak putra lainnya, selain ayah Habib Utsman. Rata-rata mereka men­jadi tokoh kalangan sayyid Makkah di masanya, seperti Sayyid Ishaq, yang wafat di kota Thaif, dan Sayyid Qasim, yang melanjutkan kepemimpinan kaum sadah kota Makkah sepeninggal Sayyid Agil. Hingga kini, keturunan kerabat Ha­bib Utsman dari keluarga besar ayahnya masih banyak yang bermukim di sana.
Sedangkan ibunya adalah Asy-Syaikhah Aminah, putri Syaikh Abdur­rah­man Al-Mishri, seorang ulama ketu­run­an Mesir. Pada usia tiga tahun, ketika ayahnya kembali ke Makkah, ia diasuh oleh kakeknya dari pihak ibu, Syaikh Ab­durrahman Al-Misri.
Syaikh Abdurrahman Al-Mishri juga seorang ulama besar pada waktu itu. Ia sepupu Syaikh Abdullah bin Ahmad Al-Mishri, sastrawan Jakarta abad ke-19. Dalam sejumlah catatan, nama Syaikh Abdurrahman disebut-sebut sebagai sa­lah satu dari empat murid asal Nusantara yang kembali dari kota Makkah, setelah puluhan tahun menimba ilmu di sana. Ke­tiga kawannya yang pulang bersama­nya ke Nusantara adalah Syaikh Abdush Shamad Al-Falimbani, Syaikh Arsyad Ban­jar, dan Syaikh Abdul Wahhab Bu­gis. Kabarnya, tersebarnya Thariqah Sam­maniyah di Nusantara tak terlepas dari peran keempat orang ini.
Salah seorang putri Syaikh Abdur­rah­man Al-Mishri, yang bernama Syai­khah Aminah, dinikahi oleh Sayyid Ab­dullah bin Agil Bin Yahya. Dari hasil per­nikahan inilah terlahir Habib Utsman Bin Yahya, sang Mufti Betawi.
Tampaknya, latar belakang keluarga Habib Utsman menjadi salah satu faktor yang merangsang daya intelektualnya sedari kecil. Di bawah asuhan Syaikh Abdurrahman Al-Mishri, Habib Utsman mendapatkan pengajaran membaca Al-Qur’an, akhlaq, ilmu tauhid, fiqih, tasa­wuf, nahwu, sharaf, tafsir, hadits, dan ilmu falak.
Pada usia 18 tahun, setelah Syaikh Ab­durrahman Al-Mishri wafat, Habib Utsman menunaikan ibadah haji dan ber­jumpa dengan ayah serta familinya. Di sana, selama tujuh tahun, ia belajar agama kepada ayahandanya, Sayyid Abdullah bin Agil, dan kepada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, mufti Makkah masa itu.
Tahun 1848 M, Habib Utsman mene­rus­kan perjalanannya dalam menuntut ilmu. Berangkatlah ia ke Hadhramaut.
Di sana, Habib Utsman menuntut ilmu kepada Habib Abdullah bin Umar Bin Yahya, dan khal (paman dari sisi ibu) gurunya itu, yaitu Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir. Di kemudian hari, sa­lah seorang cucu dari kedua gurunya itu, yaitu Sayyid Muhammad bin Agil bin Ab­dullah bin Umar Bin Yahya, juga seorang tokoh ulama besar di masanya, menikah dengan salah seorang putri Habib Uts­man. Sayyid Muhammad bin Agil sendiri adalah cucu Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir dari pihak ibunya.

Keturunan dan Pertalian Kekeluargaan
Anak-cucu Habib Utsman juga ba­nyak sekali yang menjadi ulama, meski­pun sebagiannya tidak banyak dikenal orang dan sedikit pula yang menulisnya. Di antaranya adalah Habib Alwi, anak pertamanya. Berbeda dengan Habib Utsman, yang lahir dan wafat di Jakarta, anaknya ini lahir dan wafat di Hadhra­maut, meskipun pernah pula tinggal di Jakarta dan menikah dengan wanita pribumi (Betawi). Dialah yang menulis surat kepada Snouck C. Hurgronje, mengabarkan wafatnya sang ayah pada tahun 1914.
Di antara anak Habib Alwi yang men­jadi ulama adalah Habib Utsman bin Alwi bin Utsman. Kini perjuangannya dilanjut­kan oleh anak-anaknya, di antaranya Habib Alwi bin Utsman bin Alwi bin Utsman, lulusan Darul Musthafa, Tarim, Hadhramaut. Salah seorang cucu Habib Alwi bin Utsman yang cukup dikenal di antaranya adalah Ustadzah Syarifah Syechun binti Syech bin Alwi Bin Yahya, yang telah wafat beberapa tahun silam.
Di antara anak Habib Utsman yang juga menjadi ulama adalah Habib Agil bin Utsman, yang lahir di Masilah, Hadh­ramaut, tahun 1290 H. Habib Agil, ayah ulama terkenal di Jakarta, Habib Mu­ham­mad bin Agil, dikenal sebagai pe­nyair yang hebat, memiliki kepribadian yang lembut, dan rendah hati. Syair-syair dan artikel-artikelnya dimuat di media-media yang terbit di Sungapura, Mesir, Lebanon, Maroko, dan lain-lain. Kini, sa­lah seorang putra Habib Muhammad bin Agil termasuk salah seorang ulama se­puh kota Jakarta sekarang, yaitu Habib Novel bin Muhammad bin Agil.
Habib Agil bin Utsman belajar kepa­da saudaranya, Habib Muhammad bin Utsman, anak Habib Utsman juga yang menjadi ulama di Hadhramaut, dan kepada Habib Umar bin Agil bin Abdullah bin Yahya, saudara Habib Muhammad bin Agil, tokoh besar Alawiyyin dengan re­putasi internasional, cucu Habib Ab­dullah bin Umar Bin Yahya, yang telah disinggung sebelumnya. Jadi ada dua nama Habib Muhammad bin Agil dalam lingkungan keluarga Habib Utsman, yang satu menantunya dan yang satu­nya lagi cucunya. Keduanya sama-sama ulama besar, sama-sama dari keluarga Bin Yahya, dan sama-sama penulis dan penerbit surat kabar dalam bahasa Arab.
Habib Muhammad bin Agil, cucu Habib Utsman, mempunyai beberapa saudara, di antaranya Habib Husein bin Agil, seorang ulama yang memiliki ba­nyak kisah karamah dalam kehidupan­nya. Di antara anaknya pada saat ini yang cukup dikenal adalah Ustadzah Syarifah Sukainah binti Husen Bin Yahya, seorang muballighah yang lama berkiprah dalam panggung dakwah kaum ibu di kota Jakarta. Salah satu anggota keluarga Habib Husein bin Agil pernah menjalin hubungan mushaharah (pertalian pernikahan) dengan keluarga Habib Muhammad bin Umar Bin Yahya, Pegagan, Cirebon.
Salah seorang putra Ustadzah Sya­rifah Sukainah cukup dikenal lewat ke­pakarannya di bidang nasab Alawiyyin, yaitu Habib Zainal Abidin bin Sagaf Assegaf. Habib Utsman sendiri, selain di­kenal sebagai seorang ulama yang men­jadi mufti, atau ulama yang dianggap me­miliki otoritas dalam mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan, juga memiliki per­hatian mendalam dalam pemelihara­an nasab Alawiyyin. Ia, selain mening­galkan begitu banyak karya dalam ben­tuk kitab-kitab agama, juga meninggal­kan sebuah karya berupa monogram po­hon nasab keluarga besar Alawiyyin de­ngan teknik penulisan atau penggam­baran yang cukup indah.
Anak Habib Utsman lain yang juga men­jadi tokoh adalah Habib Yahya bin Utsman, seorang anggota pengurus Ra­bithah Alawiyyah sejak awal berdirinya. Selain itu juga Habib Abdullah bin Uts­man, yang menulis biografi ayahnya dengan judul Suluh Zaman.
Dari anak-anak Habib Utsman yang perempuan, juga lahir beberapa ulama yang terkenal di Jakarta. Di antaranya Habib Umar bin Utsman Banahsan. Ibu­nya, Syarifah Khadijah, adalah putra Habib Utsman, sedangkan ayahnya, Habib Utsman Banahsan, adalah guru Guru Marzuqi, tokoh ulama Betawi. Habib Umar Banahsan adalah ayah Habib Abdullah Banahsan, tokoh habaib di Duren Sawit, Jakarta Timur, pengasuh Ma‘had Al-Abidin, dan kakek Ir. Sayyid Ahyad Banahsan, tokoh ulama muda Sawah Barat, Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Selain anak-cucunya, beberapa ke­rabat dekat Habib Utsman juga dikenal sebagai tokoh di sejumlah daerah. Di antaranya kakaknya, Habib Hasyim. Meski tak banyak diketahui ihwal jejak hidupnya, ia juga seorang ulama di masa­nya. Habib Hasyim kemudian me­netap dan wafat di kota Surabaya. Di antara keturunan Habib Hasyim ini ada­lah Dr. Rukni Hilmi Chehab (Jakarta), dok­ter ahli ortopedi yang sangat terke­muka di Indonesia, dan Ustadz Hasyim Bin Yahya (Pasuruan). Sebagian keluar­ga Habib Hasyim ini kemudian menjalin hubungan mushaharah dengan keluarga Habib Abubakar bin Umar Bin Yahya, Pegirian, Surabaya.
Saudara Habib Utsman lainnya yang tinggal di Indonesia adalah Habib Umar. Sayangnya, tidak banyak keterangan yang bisa didapat tentang saudara Habib Utsman yang satu ini, selain bahwa ia ke­mudian menetap dan wafat di Sula­wesi dan berketurunan hingga saat ini.
Dalam salah satu tradisi umat Islam saat mengirimkan hadiah pahala surah Fatihah kepada orang-orang terdahulu yang telah wafat, kerap nama sese­orang disebutkan dan kemudian diiringi de­ngan kalimat wa ushulihi wa furu’ihi, – dan (kepada) pokoknya dan cabang-ca­bangnya. Maksudnya, hadiah bacaan surah Al-Fatihah itu ditujukan kepada nama orang yang disebut dan orang-orang lain yang memiliki keterkaitan dengan orang tersebut, baik pokoknya, yang dapat bermakna pokok secara keturunan ataupun sanad keilmuan, maupun kepada cabang-cabangnya, yang dapat bermakna anak-cucunya ataupun murid-muridnya.
Mungkin kita sering mendapati tulis­an yang memuat latar belakang keilmu­an Habib Utsman, yaitu yang menye­but­kan perihal guru-gurunya di berbagai tem­pat, atau tentang senarai nama mu­rid-muridnya yang menjadi ulama besar di berbagai pelosok. Dua di antara ba­nyak muridnya yang menonjol adalah Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Ali Kwitang), yang menjadi guru hampir seluruh ulama Betawi pada abad ke-20, dan K.H. Abdul Mughni (Guru Mughni Kuningan), yang tercatat seba­gai salah seorang di antara enam ulama besar Betawi abad ke-19 M yang memi­liki jalinan intelektual dan hubungan ilmi­yah dengan beberapa ulama Timur Te­ngah. Maka, ulasan singkat ini lebih me­nekankan ushulihi wa furu’ihi pada sisi keluarganya dan pertalian hubungan kekeluargaannya itu, khususnya dengan kelompok-kelompok keluarga Bin Yahya lainnya.

Al-Fatihah ila ruhil ’Allamah Al-Habib Utsman bin Abdillah bin Agil Bin Yahya, wa ushulihi wa furu’ihi, Al-Fatihah..

Subscribe to receive free email updates: