berjalan menuju Allah seperti orang yang hendak membuat api. Ada yang
tidak membawa perlengkapan sama sekali. Namun, ada yang telah
membawa kayu bakar, minyak tanah dan korek api sehingga syeikhnya
dengan mudah dapat menuntunnya membuat api). Diantara mereka ada
yang mengambil bekal cukup untuk satu hari, ada yang mengambil bekal
untuk satu minggu, ada yang mengambil bekal untuk satu bulan dan ada
yang mengambil bekal untuk satu tahun."
Seorang sadah Alawiyin yang alim, saleh dan mulia datang ke Tarim dan
menghadiri sholat Jumat. Selesai sholat, ia berceramah, tapi mereka
melarang dan menghentikannya. Ia pun diam.
Ada lelaki Alawiyyin lain yang alim, saleh dan mulia datang ke Tarim. Ia
bertemu dengan sebagian besar warga kota Tarim, baik sadah maupun yang
lain. Mereka bersama-sama ziarah kubur. Selesai ziarah, ia minta ijin
kepada tokoh sadah untuk menyampaikan ceramah. Mereka
mengizinkannya. la pun lalu berceramah, dan mereka mendengarkan.
Setelah berceramah, ia bertemu dengan lelaki yang datang lebih awal tadi.
Lelaki itu berkata, "Engkau lelah ini membuat sunah yang buruk, yaitu
meminta izin untuk berceramah. Urusan amar makruf dan nahi munkar tidak
memerlukan izin."
"Aku minta izin untuk berceramah dan diizinkan. Mereka dapat mengambil
manfaat dari ceramahku. Sedang kau tidak minta izin, maka mereka
melarangmu," jawabnya.
Habib Sholeh bin Abdullah Al-'Atthas mendengar peristiwa ini. Beliau
berkata, "Tidak ada seorang pun yang pantas berbicara di depan tokoh-
tokoh ulama dan para wali di kota Tarim. Oh..., andaikan saja ia
berceramah, lalu masyarakat meninggalkannya sendiri."
Perhatikan bagaimana salaf menghargai tempat dan penghuninya. Ketika
orang yang memperoleh izin berceramah tadi kembali ke negaranya, seorang
lelaki saleh menemuinya. Ia mengucapkan selamat dan meminta izin untuk
membacakan sesuatu. Ia lalu membacakan kitab Al-'Uhud Al-
Muhammadiyah karya Imam Sya'rani. Dalam kitab itu tertulis: Kami terikat
oleh perjanjian, jika memasuki suatu kota dan hendak menyampaikan
ceramah kepada saudara-saudara kami, maka kami diharuskan meminta Izin.
Orang yang memperoleh izin berceramah lalu berkata, "Salinlah tulisan itu,
lalu kirimkan kepadanya."
Ada orang yang mau menerima dakwah jika disampaikan dengan
menimbulkan minat (targhib), ada yang harus dengan teror (ancaman atau
tarhib), ada yang dengan cara membangkitkan rasa rindu (tasywiq}, ada
yang dengan cara menyentuh perasaan (tadzwiq).
Perjalanan ruh (dalam mendekatkan diri kepada Allah) adalah dengan
kerinduan, perjalanan hati dengan kegembiraan (faroh) dan perjalanan
jasmani dengan mujahadah dan riyadhoh.
Ada tiga macam keadaan hati: hati yang hidup, hati yang lalai dan hati yang
mati. Untuk hati yang hidup pendekatan dakwahnya dengan menimbulkan
rasa rindu dan targhib. Untuk hati yang lalai pendekatan dakwahnya dengan
memberikan peringatan-peringatan. Sedang hati yang mati pendekatan
dakwahnya dengan ancaman dan harapan.
Majelis dakwah dan kisah kaum sholihin dapat menjadi air dan bahan
pembersih {detergent). Untuk hati yang kotor, majelis tadi akan menjadi
pembersihnya. Sedangkan untuk hati yang lunak dan hidup, majelis tadi
akan menjadi air yang menyirami dan membuatnya menjadi semakin hidup.
*Diambil dari buku:
"Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthas:
Riwayat hidup, Wasiat dan Nasihat, Kisah & Hikmah,
Do'a dan Amalan."
Oleh: al-Habib Novel bin Muhammad al-'Aydrus.
Penerbit: Putera Riyadi, Solo.
tidak membawa perlengkapan sama sekali. Namun, ada yang telah
membawa kayu bakar, minyak tanah dan korek api sehingga syeikhnya
dengan mudah dapat menuntunnya membuat api). Diantara mereka ada
yang mengambil bekal cukup untuk satu hari, ada yang mengambil bekal
untuk satu minggu, ada yang mengambil bekal untuk satu bulan dan ada
yang mengambil bekal untuk satu tahun."
Seorang sadah Alawiyin yang alim, saleh dan mulia datang ke Tarim dan
menghadiri sholat Jumat. Selesai sholat, ia berceramah, tapi mereka
melarang dan menghentikannya. Ia pun diam.
Ada lelaki Alawiyyin lain yang alim, saleh dan mulia datang ke Tarim. Ia
bertemu dengan sebagian besar warga kota Tarim, baik sadah maupun yang
lain. Mereka bersama-sama ziarah kubur. Selesai ziarah, ia minta ijin
kepada tokoh sadah untuk menyampaikan ceramah. Mereka
mengizinkannya. la pun lalu berceramah, dan mereka mendengarkan.
Setelah berceramah, ia bertemu dengan lelaki yang datang lebih awal tadi.
Lelaki itu berkata, "Engkau lelah ini membuat sunah yang buruk, yaitu
meminta izin untuk berceramah. Urusan amar makruf dan nahi munkar tidak
memerlukan izin."
"Aku minta izin untuk berceramah dan diizinkan. Mereka dapat mengambil
manfaat dari ceramahku. Sedang kau tidak minta izin, maka mereka
melarangmu," jawabnya.
Habib Sholeh bin Abdullah Al-'Atthas mendengar peristiwa ini. Beliau
berkata, "Tidak ada seorang pun yang pantas berbicara di depan tokoh-
tokoh ulama dan para wali di kota Tarim. Oh..., andaikan saja ia
berceramah, lalu masyarakat meninggalkannya sendiri."
Perhatikan bagaimana salaf menghargai tempat dan penghuninya. Ketika
orang yang memperoleh izin berceramah tadi kembali ke negaranya, seorang
lelaki saleh menemuinya. Ia mengucapkan selamat dan meminta izin untuk
membacakan sesuatu. Ia lalu membacakan kitab Al-'Uhud Al-
Muhammadiyah karya Imam Sya'rani. Dalam kitab itu tertulis: Kami terikat
oleh perjanjian, jika memasuki suatu kota dan hendak menyampaikan
ceramah kepada saudara-saudara kami, maka kami diharuskan meminta Izin.
Orang yang memperoleh izin berceramah lalu berkata, "Salinlah tulisan itu,
lalu kirimkan kepadanya."
Ada orang yang mau menerima dakwah jika disampaikan dengan
menimbulkan minat (targhib), ada yang harus dengan teror (ancaman atau
tarhib), ada yang dengan cara membangkitkan rasa rindu (tasywiq}, ada
yang dengan cara menyentuh perasaan (tadzwiq).
Perjalanan ruh (dalam mendekatkan diri kepada Allah) adalah dengan
kerinduan, perjalanan hati dengan kegembiraan (faroh) dan perjalanan
jasmani dengan mujahadah dan riyadhoh.
Ada tiga macam keadaan hati: hati yang hidup, hati yang lalai dan hati yang
mati. Untuk hati yang hidup pendekatan dakwahnya dengan menimbulkan
rasa rindu dan targhib. Untuk hati yang lalai pendekatan dakwahnya dengan
memberikan peringatan-peringatan. Sedang hati yang mati pendekatan
dakwahnya dengan ancaman dan harapan.
Majelis dakwah dan kisah kaum sholihin dapat menjadi air dan bahan
pembersih {detergent). Untuk hati yang kotor, majelis tadi akan menjadi
pembersihnya. Sedangkan untuk hati yang lunak dan hidup, majelis tadi
akan menjadi air yang menyirami dan membuatnya menjadi semakin hidup.
*Diambil dari buku:
"Sekilas tentang Habib Ahmad bin Hasan al-'Atthas:
Riwayat hidup, Wasiat dan Nasihat, Kisah & Hikmah,
Do'a dan Amalan."
Oleh: al-Habib Novel bin Muhammad al-'Aydrus.
Penerbit: Putera Riyadi, Solo.
0 Response to "AL-HABIB AHMAD BIN HASAN AL-'ATTHAS "
Post a Comment