Ziarah ke Makam Awliya’ Jakarta: Menelusuri Jejak Spiritual Waliyullah di Tanah Betawi

 
“Ikutilah jalan baik, niscaya Allah menunjukimu jalan orang-orang salaf dahulu....”
Sabtu pagi jam 7.00 WIB, 8 Mei 2010, pelataran parkir kantor redaksi alKisah dipenuhi puluhan orang. Acara yang dipimpin Bapak Harun Musawa, salah satu pemimpin Aneka Yess Group, cukup mendapat perhatian dari orang-orang yang berlalu-lalang di Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur. Gerangan apakah yang membuat puluhan orang berpakaian putih-putih itu berkumpul?
Ternyata, hari itu alKisah tengah menggelar hajatan ziarah ke sejumlah makam habaib yang dikenal memeiliki peran penting bagi perjalanan dakwah di ibu kota Jakarta di masa lalu.

Perhelatan sakral ini dipandu salah seorang anggota sidang redaksi alKisah, Muhammad Shobihullah, dengan pembimbing habib muda yang energik dan piawai dalam kegiatan ziarah yang sering diasuhnya, yakni Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan, pengasuh Ma’had Al-Abidin Pondok Bambu, Jakarta Timur. Turut serta dalam rombongan ziarah alKisah ini Habib Ali Shahab dari Semarang, Habib Luqman Bilfaqih, dan Bapak Lukman Adham dari Dian Rakyat (pencetak majalah alKisah), yang mensponsori makan siang para peserta.
Bimbingan ziarah Habib Ahyad berbeda dan unik. Dalam bacaan tawassulnya, ia menyertakan sangat banyak nama a’immah (para imam) dan awliya’. Ia juga menjelaskan ushul dan furu’ (pokok dan cabang) silsilah nasab para shahibul maqam, sehingga membuat kami merasa semakin dekat dengan mereka, yang pada gilirannya membuat tawassul kami semakin khusyu’. Keunikan lainnya, Habib Ahyad membiasakan sepanjang ziarah membacakan surah Al-Fatihah sebanyak tujuh kali di setiap tawassulan, sedangkan lazimnya hanya sekali.

Pemakaman Al-Hawi
Dengan iringan doa, bus yang ditumpangi rombongan peziarah meluncur menuju tempat pertama, Pemakaman Al-Hawi, Cililitan. Sepanjang perjalanan, Mu’allim Shobih memandu jama’ah dengan menceritakan kisah para ulama dan awliya’ yang makamnya tengah dituju tersebut. Tentunya ini bukan sekadar ziarah, tapi juga kegiatan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dengan menelusuri jejak spiritual mereka yang dikasihi Allah SWT itu.
Setibanya di Pemakaman Al-Hawi, para peziarah mengucapkan salam bagi para ahli kubur di pemakaman tersebut. Di antaranya di sana dimakamkan Habib Muhsin bin Muhammad bin Muhsin Al-Aththas, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Haddad, Habib Ali bin Husein Al-Aththas, Habib Salim bin Jindan, Habib Umar bin Hud Al-Aththas, Syarifa Nur binti Muhsin AL-Aththas, Habib Ja’far bin Muhammad Al-Haddad, Habib Zein bin Abdullah Al-Idrus Al-Shalabiyah, Habib Utsman bin Alwi bin Yahya.

Pengucapan salam itu diiringi pembacaan qashidah Salamullah ya Sadah, karya Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir Ba’alawi, yang lazim dibawakan saat ziarah ke makam para waliyullah.

Lalu, jama’ah bersimpuh dan memanjatkan tawassul serta bacaan surah Al-Fatihah dan tahlil yang dibimbing oleh Habib Ahyad bin Abdullah Banahsan.

Kami yakin, para awliya’ yang dimakamkan di tempat tersebut hadir dan turut mengamini doa-doa yang kami panjatkan. Sungguh, para wali itu tetap hidup dan mendapatkan rizqi dari Allah SWT.

Pemakaman Habib Kuncung
Sejam kemudian acara ziarah dilanjutkan menuju pemakaman Habib Ahmad bin Alwi Al-Haddad, atau Habib Kuncung, yang letaknya kurang lebih 10 km dari Pemakaman Al-Hawi. Nuansa spiritual pemakaman yang banyak dihuni keluarga Al-Haddad ini tak kalah dengan Pemakaman Al-Hawi.
Dengan penghantar doa yang banyak ditujukan bagi pemuka keluarga Al-Haddad, seperti shahibur ratib Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Habib Ahyad memulai prosesi ziarah tersebut. Selanjutnya, bacaan dzikir dan tahlil terus mengumandang dari setiap lisan peziarah. Jama’ah pun sempat mencicipi air dari gentong yang terdapat di pelataran kubah Habib Kuncung, yang diyakini membawa keberkahan.

Makam Habib Ali Kwitang
Selepas dari pemakaman ini, jama’ah melanjutkan perjalanan berikutnya. Kali ini tujuannya adalah Kwitang. Sepanjang perjalanan ke sana, Ustadz Shobih melantunkan qashidah ba’da ziarah dan bacaan surah Al-Ikhlash.

Maka sampailah kami ke makam guru para guru Betawi, Al-‘Allamah Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi, yang terdapat di sisi Masjid Ar-Riyadh Kwitang. Suasana hati semakin hanyut ketika iringan tawassul dan doa kembali dipanjatkan.

Seorang peserta, di atas pusara Habib Ali, menitikkan air mata, berharap keberkahan dari Allah SWT melalui shahibul maqam agar putranya kelak menjadi ahli ilmu dan dakwah seperti shahibul maqam, Habib Ali Al-Habsyi.

Seorang peserta lainnya, yang selama ini  baru mengenal nama Habib Ali, tampak tertegun. Dikatakannya kepada kami, saat dulu Habib Ali masih hidup, banyak orang yang bersilaturahim seraya mengharap doa dan keberkahannya. Dan setelah ia tiada pun, keberkahannya masih diharapkan orang. “Inilah tanda-tanda seorang wali tetap hidup, sebagaimana sering dikatakan para ulama,” ujarnya penuh takzim.

Makam Keramat Kampung Bandan
Ketika matahari kian menjulang, perjalanan dilanjutkan menuju Makam Keramat Kampung Bandan. Di makam yang terletak di bagian dalam masjid Kampung Bandan ini, dikebumikan tiga tokoh ulama habaib, yakni Habib Muhammad bin Umar Al-Qudsi, Habib Ali bin Abdurrahman Ba’alawi, dan Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathiri. Muncullah di benak kami bayangan kisah di masa lalu, bagaimana ketiga tokoh ini turut mengumandangkan gema dakwah di kawasan pesisir Utara Jakarta pada tiga abad yang lalu.

Keramat Luar Batang
Sekalipun singkat, perjalanan yang dilanjutkan menuju makam Keramat Luar Batang seakan membawa seluruh jama’ah hidup di masa silam. Bangunan-bangunan tua, pelabuhan tua Sunda Kelapa, tempat bersandarnya ratusan kapal, mengingatkan kami bagaimana epos perjuangan yang dilakukan para dai kalangan habaib yang menempuh perjalanan beribu-ribu kilometer demi meneruskan dakwah datuknya, Nabi Muhammad SAW.
Tak terasa, air mata menetes membasahi pipi. Dan seolah mengiringi doa-doa yang kami panjatkan bagi mereka, rintik-rintik gerimis pun jatuh dari langit sepanjang perjalanan menuju persinggahan ziarah terakhir kami, Makam Keramat Luar Batang.

Setibanya di Luar Batang, kami menunaikan shalat Zhuhur. Kemudian, kami menyambangi makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus beserta pendamping setianya, Haji Abdul Kadir.

Dalam syahdunya suasana dzikir yang dilantunkan Habib Ahyad Banahsan, kembali pikiran kami menerawang ke masa lalu. Betapa pengharapan dan kegigihan yang diusahakan Habib Husein Alaydrus untuk meninggikan kalimah Allah dan menyebarkan dakwah Rasulullah begitu hebat, sehingga di kala ia wafat harapan dan kegigihannya itu menjadi pelita bagi umat dan berbuah keberkahan bagi setiap orang yang mulazamah (rutin) bertamu ke makamnya.

Suasana sakral memang selalu menyelimuti bathin para jama’ah. Beberapa orang di antara kami menitikkan air mata, terkenang akan kegigihan para wali di masa lalu dan kagum akan kemuliaan dan keberkahan yang mereka peroleh kini. Keinginan pun timbul di hati kami untuk menuai apa seperti yang mereka peroleh. Dan kami pun teringat pesan Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, “.... Waqtad sunnatan hadakallahu bil aslaf.... (Ikutilah jalan baik, niscaya Allah menunjukimu jalan orang-orang salaf dahulu....)”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ziarah ke Makam Awliya’ Jakarta: Menelusuri Jejak Spiritual Waliyullah di Tanah Betawi"

Post a Comment