BIOGRAFI SINGKAT TOKOH ULAMA ALAWIYIN DI HADRAMAUT


1. Ali al-Uraidhi bin Ja'far al-Shodiq.



Imam Ali bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib mempunyai gelar Abu Hasan, beliau adalah mataharinya ahlul-bait dan bulannya keturunan Rasulullah saw. Nama lain beliau adalah Ali al-Uraidhi yaitu nama tempat yang terletak empat mil dari kota Madinah al-Munawwarah. Di kota itu beliau menetap dan di sana pula beliau meninggal (tahun 210 Hijriyah) dan dikuburkan.

Imam Ali al-Uraidhi adalah anak bungsu dari anak-anak Imam Ja'far al-Shodiq, ia masih kecil ketika ayahnya wafat. Semasa hidupnya ia menuntut ilmu kepada ayahnya dan saudaranya Imam Musa al-Kadzim dan Hasan bin Zaid bin Ali Zainal Abidin, hingga kepandaian beliau melebihi saudara-saudaranya sendiri. Sedangkan murid beliau adalah anaknya sendiri Muhammad dan Ahmad serta cucu beliau Abdullah bin Hasan bin Ali al-Uraidhi dan cucu saudaranya Ismail bin Muhammad bin Ishaq bin Ja'far al-Shodiq serta ahli qiroat Imam al-Bazi. Imam Ali al-Uraidhi dikaruniai umur panjang sehingga dapat memberikan cucu kepada ayahnya.

Imam Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin kaum syarif dan syaikhnya Bani Hasyim di kota Uraidh, beliau tempat bertanya berbagai masalah agama, termasuk saudaranya sendiri Imam Musa al-Kadzim. Beliau hidup sampai masa al-Hadi Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa al-Kadzim. Anak-anak Imam Ali dikenal dengan al-Uraidhiyun yang banyak mendiami daerah Uraidh, Kuffah dan Qum. Anak-anak beliau:

1. Ja'far, mendapat keturunan dari anaknya Ali.

2. Hasan, mendapat keturunan dari anaknya Abdullah yang terdapat di Madinah, Mesir, Iraq dan negeri lainnya.

3. Ahmad Asy-Sya'roni, mendapat keturunan dari anaknya Muhammad yang terdapat di Iraq yang dikenal dengan Bani Jiddah, Basiron dan Thobariyah.

4. Muhammad An-Naqib.

2. Muhammad al-Naqib bin Ali al-Uraidhi.

Imam Abu Abdillah, Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dilahirkan di kota Madinah al-Munawwarah, dibesarkan dan dididik oleh ayahnya Ali al-Uraidhi hingga ayahnya wafat. Beliau tidak pernah berpergian dan berpisah dari ayahnya kecuali setelah ayahnya wafat. Imam Muhammad bin Ali al-Uraidhi adalah seorang pemimpin yang sempurna. Para ulama sepakat atas kepemimpinannya, kewibawaannya, ilmunya, amalnya, kewara'annya, karena itulah Imam Muhammad digelari dengan al-Naqib (pemimpin). Beliau orang yang banyak beribadah, dermawan, tidak suka ketenaran.

Beliau yang pertama kali pindah dari kota Madinah ke kota Iraq dan menetap di Basrah. Beliau dikaruniai banyak keturunan diantaranya: al-Muhaddits Yahya bin Husin bin Isa Arrumi bin Muhammad An-Naqib, Abu Turab Ali bin Isa al-Akbar, Abu Fawaris Ja'far bin Hamzah bin Husin bin Musa bin Isa al-Akbar, Ishaq bin Isa al-Akbar, Muhammad bin Muhsin bin Muhammad bin Husin, Isa bin Muhammad bin Husin.

3. Isa bin Muhammad al-Rummi

Imam Isa bin Muhammad Ali al-Uraidhi bin Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang imam besar ilmu agama. Beliau dibesarkan dan dididik ilmu hadits, ilmu fiqih dan ilmu agama lainnya oleh ayahnya Imam Muhammad bin Ali al-Uraidhi.

Imam Isa bin Muhammad mempunyai kulit berwarna putih kemerah-merahan yang merupakan sebaik-baiknya warna, sebagaimana perkataan Imam Ali bahwa warna kulit Rasulullah adalah putih kemarah-merahan.

Beliau juga dinamakan Ar-Rumi dan An-Naqib, karena beliau mempunyai rupa putih kemerah-merahan seperti pria yang berasal dari negara Rum dan beliau juga sebagai seorang pemimpin para kaum syarif yang selalu menjaga dan menjamin keamanan kaumnya, dan nama beliau juga merupakan nama salah satu nabi yaitu nabi Isa alaihi salam. Adapun gelar yang lain yaitu al-Azraq, karena beliau mempunyai mata yang berwarna biru. Imam Isa bin Muhammad dikaruniai tiga puluh orang anak laki-laki dan lima orang anak perempuan.

4. Ahmad bin Isa (al-Muhajir)

Imam Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, ketika menyaksikan terjadinya fitnah, bencana dan kedengkian telah mewabah pada masyarakat Iraq, berkuasanya para ahli bid'ah dan banyaknya penghinaan terhadap para syarif Alawiyin dan beratnya berbagai tekanan yang mereka rasakan, banyaknya para pencuri dari kalangan orang-orang hitam, dan perbuatan yang tidak pantas terhadap wanita kaum muslimin serta banyaknya pembunuhan, sebagaimana telah disebutkan oleh Ash-Shuli: " Sesungguhnya jumlah orang yang terbunuh pada musibah yang terjadi sebanyak 1,5 juta orang, diantaranya seorang pembesar dari mereka yaitu Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Isa bin Zainal Abidin", di samping itu mereka juga mencaci maki khalifah Usman, Ali, Tolhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah , maka disebabkan oleh hal-hal tersebut beliau hijrah dari negeri Iraq ke negri Hadramaut sebagaimana kakeknya Rasulullah saw hijrah dari Makkah ke Madinah.

Imam Ahmad dari Basrah hijrah ke kota Madinah pada tahun 317 Hijriyah yang selanjutnya menuju kota Makkah, kemudian berpindah ke Yaman Hadramaut. Di Hadramaut merupakan akhir perjalanan Imam Ahmad bersama anak dan keturunannya yang akhirnya beliau menetap di sana.

Imam Ahmad bin Isa pindah dari Basrah ke Hadramaut bersama anaknya Ubaidillah dan ketiga cucunya Alwi (kakek dari Bani Alawi), Jadid ( kakek dari Bani Jadid) dan Basri (kakek dari Bani Basri). Mereka semua adalah orang-orang yang mulia, ulama yang mengamalkan ilmunya.

Menurut al-Allamah Muhammad bin Salim al-Bijani dalam kitabnya " al-Asy'ah al-Anwar " jilid 2 halaman 82 mengatakan bahwa: " Sesungguhnya dari kalangan keluarga Ali yang pertama kali datang ke Hadramaut adalah al-Muhajir Ahmad bin Isa. Beliau hijrah dari Basrah menuju Madinah bersama keluarganya yang berjumlah 70 orang ".

Ikut serta bersama Imam Ahmad hijrah dari kota Basrah ke kota Madinah kakek dari Bani Ahdal (keturunannya antara lain Ali bin Umar bin Muhammad bin Sulaiman bin Ubaid bin Isa bin Alwi bin Muhammad bin Jamzam bin Auf bin Imam Musa al-Kadzim) dan kakek dari Bani Qudaim ( diantara keturunannya adalah Muhammad Jawad bin Ali Ar-Ridho bin Imam Musa al-Kadzim), sedangkan anak Imam Ahmad yang bernama Muhammad tetap tinggal di Iraq untuk menjaga harta Imam Ahmad al-Muhajir, sampai beliau mendapat keturunan dan meninggal di sana.

Pada tahun 318 Hijriyah, Imam Ahmad bin Isa menunaikan ibadah haji. Dari Makkah beliau pergi ke Hajrain Hadramaut dan membeli perkebunan kurma dengan harga 500.000 dinar dan menghadiahkan perkebunan tersebut kepada mawalinya. Kemudia beliau pindah ke daerah Husaisah yang jaraknya kira-kira setengah marhalah dari Tarim dan terletak sebelah Timur Syibam.

Berkata Muhammad bin Salim: " Daerah yang pertama kali disinggahi Imam Ahmad adalah Jubail di mana penduduknya mempunyai sifat yang baik dan mereka menerima dengan senang hati kedatangan Imam Ahmad. Negeri Jubail terletak di Wadi Du'an yang penduduknya bermadzhab Ahlussunnah dan Syi'ah yang dikelilingi oleh penganut madzhab Ibadiyah. Penduduk Jubail berasal dari suku Kindah dan Sodap. Tidak lama kemudian Imam Ahmad pindah ke Hajrain dan tinggal di sana selama satu tahun. Di Hajrain beliau membeli perkebunan kurma dengan harga 500.000 dinar dan menghadiahkan perkebunan tersebut kepada mawalinya. Kemudian beliau pergi ke desa Bani Jasir dan kemudian ke Husaisah. Di Husaisah beliau menetap sampai wafat. Pengembaraan beliau di Hadramaut di mulai dari tahun 320 hijriyah sampai tahun 345 hijriyah. Beliau hidup pada zaman Daulah Ziyadiyah (Bani Umayah) dan pada zaman Daulah Zaidiyah (al-Hasyimi) di Yaman. Selama di Hadramaut, beliau memerangi kaum Ibadhiyah dan kaum Qaramithah tanpa senjata".

Dalam majalah Al-Rabithah jilid 5 halaman 296 dijelaskan bahwa: " Imam Ahmad bin Isa hijrah ke Hadramaut tidak untuk mencari kekayaan dunia, karena di Hadramaut tidak ada sesuatu untuk dicari. Barang siapa mendengar berita tentang negeri Hadramaut, maka dapat dikatakan bahwa Sayid Ahmad bin Isa dan keturunannya tidaklah hijrah dari negeri Iraq yang subur ke negeri yang tandus dan tidak dapat ditemukan adanya banyak makanan, akan tetapi beliau hijrah bersama keluarga dan anaknya karena menjaga diridan agamanya dari fitnah dan kekejaman bala tentara kerajaan ".

Sehubungan dengan hal di atas, berkata Imam Fadhol bin Abdullah bin Fadhol: "Barangsiapa yang tidak berkhusnuzhon terhadap keluarga Bani Alawi, baginya tidak akan diberikan kebaikan". Imam Ahmad bin Isa wafat pada tahun 345 hijriyah.

5. Ubaidillah bin Ahmad bin Isa

Syaikhul Islam Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dilahirkan di Basrah, dibesarkan dalam lingkungan para ahli ilmu. Guru beliau adalah ayahnya sendiri Imam Ahmad bin Isa. Pada tahun 317 hijriyah beliau mengadakan perjalanan ke Makkah dan sekaligus menunaikan ibadah haji ke Baitullah.

Syaikhul Islam Ubaidillah bin Ahmad bin Isa seorang yang hafal hadits, para ulama banyak meriwayatkan hadits darinya. Beliau juga merupakan ulama kenamaan di zamannya. Harta kekayaan beliau berupa perkebunan yang subur dan luas.

Beliau mempunyai tiga orang anak yang bernama Alwi, Jadid dan Basri. Alwi mempunyai keturunan yang tersebar di Hadramaut yang dikenal dengan nama Abi Alawi. Keturunan Imam Alwi banyak yang yang menjadi ulama, sulthon dan menteri, sedangkan keturunan dari keluarga Jadid dan keluarga Basri hanya sedikit dan terputus pada awal abad ke tujuh hijriyah.

Dari keluarga Basri terdapat seorang ulama besar bernama Syaikh Salim Basri yang manakibnya dapat dibaca pada kitab al-Thobaqat al-Asnawi dan kitab al-Nuzhah al-Uyun Fi Tarikh al-Thowaif"

Dari keluarga Jadid terdapat seorang ulama yaitu al-Imam al-Muhaddits Abi Jadid yang wafat di Makkah pada tahun 630 hijriyah. Manakib beliau dapat dibaca dalam kitab al-Nafhah al-Anbariyah.

Keluarga Alwi meneruskan keturunannya yang diberkahi Allah. Gelar Alawi bernisbah kepada kakek mereka Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir. Gelar tersebut terdapat pula di Yaman, bagian Barat Jazirah Arab dan Saudi Arabia dengan sebutan Bani Alawi, Ba'alawi atau Ibnu Alawi, akan tetapi umumnya dikenal dengan nama Alawiyin. Di negeri Maghrib gelar tersebut dikenal dengan al-Alawiyah, dan gelar itu digunakan oleh keturunan Hasan bin Qasim al-Hasani.

Di antara keramat Imam Ubaidillah bin Ahmad bin Isa ialah beliau dapat menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang hanya dengan mengusap badan orang yang sakit dengan kedua tangannya.

Imam Ubaidillah bin Ahmad hijrah ke Sumul dan menghadiahkan tanah subur yang terletak di tepi sungai kepada maulanya Ja'far bin Mukhoddam. Imam Ubaidillah bin Ahmad menetap dan menikah di Sumul serta wafat di sana pada tahun 383 hijriyah.

6. Alwi bin Ubaidillah (Abu Alawi).

Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dilahirkan dan dibesarkan di Hadramaut. Beliau seorang Hafidz Alqur'an dan sibuk dalam menuntut ilmu baik di Hadramaut maupun di makkah dan Madinah. Beliau dinamakan Alwi berdasarkan nama seekor burung yang terkenal keindahannya.

Imam Alwi seorang yang alim dalam berbagai cabang ilmu, banyak mengerjakan shalat dan berpuasa, bersedekah, berbuat baik dan lemah lembut kepada kaum fakir dan miskin, teguh dalam menjalankan perintah agama, mempunyai kemuliaan yang sempurna, syekhnya kaum arifin, seorang faqih yang zuhud.

Beliau menunaikan ibadah haji bersama saudaranya Jadid dan orang-orang dari keluarga pamannya, kerabat dekat dan sahabatnya. Jumlah yang ikut serta dalam menunaikan ibadah haji bersama beliau sekitar delapan puluh orang laki-laki yang tidak satupun diantara mereka yang membawa perbekalan. Selama perjalanan pergi menuju tanah suci sampai pulang kembali ke Hadramaut semua keperluan rombongan ditanggung olehnya, bahkan beliau membelikan hadiah juga kepada mereka untuk dibawa pulang kepada keluarga mereka.

Keturunan beliau tersebar ke seluruh penjuru dunia, nasab beliau terkenal seperti matahari yang bersinar di siang hari dan terangnya cahaya bulan di malam hari.

Di Suria terdapat suatu kaum yang diberi gelar Alawiyin, akan tetapi gelar tersebut dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang berkhidmat kepada Imam Ali, nasab mereka tidak bersambung kepada Imam Ali, mereka dinamakan kaum Mutawalah atau Mutawaliyah dan kaum Nashiriyah.

Di Sanqit, suatu daerah di negeri Maghrib terdapat pula orang-orang yang menggunakan gelar Alawi. Nasab mereka bersambung kepada Muhammad al-Hanafiah bin Ali bin Abi Thalib dan sebagian ada juga yang bersambung kepada Imam Hasan.

Menurut Syaikh Ar-Rabwah Abu Abdillah Muhammad bin Abi Thalib al-Anshori al-Damsyiqi dalam kitabnya Nuhbah al-Dahr cetakan Leipzig tahun 1920 masehi dikatakan bahwa: 'Hijrahnya kaum Alawi ke beberapa negara terjadi pada masa khalifah Usman bin Affan'

Imam Alwi wafat di Hadramaut, dikaruniai seorang putra yang bernama Muhammad.

7. Basri bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa.

Beliau adalah saudara kandung Imam Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau dilahirkan di Basrah, dididik oleh ayahnya, seorang yang haus akan ilmu, mahir dalam ilmu bahasa Arab dan ilmu hadits, seorang faqih, zuhud, wara', berakhlaq mulia.

Syaikh Salim bin Basri seorang waliyullah yang keramatnya khawariq dan seorang ulama yang khawas adalah keturunan Imam Basri bin Ubaidillah. Suatu ketika seorang Sultan mengumpulkan para ulama dan berkata: Pilihlah untukku seorang yang paling baik. Maka dipilihlah beberapa orang dari ahli Tarim. Sultan berkata lagi: Pilihlah dari mereka yang terbaik. Maka dicarilah dari mereka yang terbaik. Sultan berkata lagi: Berikan kepadaku orang yang mulia. Maka diberikanlah kepada sultan orang yang paling mulia. Kemudian Sultan berkata: Pilihlah dan berikan kepadaku satu diantara mereka yang paling mulia. Maka para ulama memilih Syaikh Salim bin Basri.

Berkata Syaikh Muhammad Syilih: 'Imam Salim bin Basri semasa hidupnya belajar kepada Syaikh Salim bin Fadhol Bafadhol dan dia bepergian ke Yaman dan Hijaz untuk menuntut ilmu kepada ulama kedua negeri tersebut'.

Di antara murid beliau adalah al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali Ba'alawi, Ibnu Abi al-Hub, Syaikh Ali Bamarwan, al-Qadhi Ahmad Ba'isa, Syaikh Ali bin Muhammad Khotib. Syaikh Salim bin Basri wafat tahun 604 hijriyah, bersamaan dengan wafatnya Imam Ali bin Yahya bin Maimun al-Hadrami.

8. Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa.

Imam Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib lahir di Hadramaut. Beliau dididik dan belajar ilmu agama kepada ayahnya Imam Ubaidillah bin Ahmad bin Isa dan saudaranya Alwi dan Basri sehingga menjadi seorang yang ahli dalam ilmu sastra. Dinamakan Jadid karena kakeknya pindah dari Basra ke tempat yang baru bernama Hadramaut.

Pada zamannya Imam Jadid bin Ubaidillah yang menonjol dibandingkan dengan ulama lainnya terutama di bidang ilmu hadits dan ilmu tafsir. Ketika ke Aden, beliau bertemu dengan Qadhi kota tersebut yang bernama Syaikh Ibrahim bin Ahmad al-Qurdi dan belajar ilmu pengobatan kepadanya. Imam Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa wafat di kota Sumul, salah satu keturunannya Imam Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Jadid bin Ali bin Muhammad bin Jadid.

Imam Ali bin Muhammad dan saudara Abdul Malik bin Muhammad mengadakan perjalanan ke kota al-Wajiz untuk berziarah kepada Syaikh Mudapa' bin Ahmad al-Muaini untuk belajar tasawuf dan beliau dinikahkan kepada anak perempuannya. Manakib kedua ulama tersebut terdapat dalam kitab " al-Athoyya al-Saniyah Fi al-Manaqib al-Yamaniah " karangan Abdul Malik al-Ghusani..

Berkata al-Sakhowi dalam kitabnya al-Maqasid al-Hasanah: telah mengkhabarkan kepada kami Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Jadid al-Husaini, Barang siapa mendengar muadzin berkata Ashadu anna Muhammad Rasullullah, maka jawablah dengan: Marhaban Ya Habibi, qurrotu Aini, Muhammad bin Abdillah saw.

Selain belajar di kota al-Wajiz, Imam Ali bin Muhammad belajar juga ke kota Makkah dengan Ibnu Abi al-Shoif al-Yamani, hal tersebut merupakan perjalanan terakhir beliau dan wafat di Makkah.

9. Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah.

Imam Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib lahir di kota Sumul tahun 390 hijriyah. Di Sumul kaum Alawi mempunyai suatu kampung yang dinamakan kampung Alawiyah yang mempunyai bangunan yang tinggi dan kamar yang luas. Kemudian beliau pindah ke Bait Jabir yang mempunyai tanah pertanian yang luas dan dibesarkan di kota tersebut.

Imam Muhammad adalah seorang pemimpin kaum arifin yang selalu mengajak kaumnya ke jalan para salaf, hafal alquran dan kitab lainnya. Beliau belajar ilmu fiqih kepada anak pamannya Ubaidillah bin Basri dan ulama-ulama dari Bani Basri dan Bani Jadid serta ulama lainnya, bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu yang bermanfaat sehingga menguasai ilmu fiqih, hadits dan tasawuf, mengisi waktunya dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah, menolong orang-orang yang teraniaya, rajin memberi sedekah, pemimpin kaum mujtahid, wara', selalu bertafakkur terhadap ciptaan Allah.

Dari keturunan beliau banyak yang menjadi ulama, faqih dan muhaddits. Imam Muhammad wafat pada tahun 446 hijriyah dalam usia 56 tahun di Bait Jubair.

10. Alwi bin Muhammad bin Alwi.

Imam Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far al-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib lahir di Bait Jubair suatu daerah yang mempunyai udara yang sejuk dan bersih serta air yang menyegarkan. Di sana keluarga Alawiyin mendirikan masjid yang dinamakan At-Taqwa.

Imam Alwi mempunyai dua orang anak , pertama bernama Salim (tidak mempunyai keturunan) dan yang kedua bernama Ali yang dikenal dengan Khali' Qasam. Imam Alwi bin Muhammad besar dalam didikan ayahnya Imam Muhammad bin Alwi. Beliau adalah seorang syaikhnya (guru besar) kaum ulama dan Fudhola yang berjalan di atas lintasan jalan yang lurus.

Imam Alwi bin Muhammad wafat pada tahun 512 hijriyah dan dimakamkan di Bait Jubair.

11. Ali bin Alwi bin Muhammad (Khali' Qasam)

Imam Ali bin Alwi bin Muhammad yang dikenal dengan Khali' Qasam lahir di Bait Jubair yang merupakan salah satu tempat yang diberkahi oleh Allah. Di sana beliau membeli sebidang tanah seharga dua puluh ribu dinar dan dinamakan Qasam. Nama tersebut merupakan nama suatu daerah kakeknya Ahmad bin Isa di Basrah. Di tanah tersebut dibangun rumah beliau yang dikelilingi dengan tanah pertanian yang subur dan daerah tersebut dinamakan Khali' Qasam serta banyak didiami oleh para penduduk.

Imam Ali bin Alwi adalah orang pertama dari kalangan keluarga Alawiyin yang datang ke kota Tarim, di mana sebelumnya beliau sering mengunjungi ke kota tersebut. Beliau tinggal di kota Tarim sejak tahun 521 hijriyah bersama anak keturunan pamannya dari keluarga Basri dan keluarga Jadid. Di kota Tarim mereka mendirikan sebuah masjid yang dikenal dengan nama masjid Bani Ahmad yang terakhir dikenal dengan nama masjid Bani Alawi. Masjid tersebut dari tahun ke tahun terus diperbaharui diantaranya oleh Muhammad Shahib Marbath dan Umar Muhdhar.

Imam Ali bin Alwi dibesarkan dan dididik dalam asuhan ayahnya Imam Alwi bin Muhammad. Beliau adalah pemimpin kaum Alawiyin yang dikaruniai Allah ketajaman mata hati, hafal Alqur'an dan menguasai berbagai macam cabang ilmu, sangat dermawan, tawadhu' dalam berbicara maupun bertindak serta berpakaian, ia tidak terlihat lebih menonjol dari yang lain. Jika beliau duduk bersama kaum khawas maupun kaum awam, orang tidak mengenali kalau beliau adalah seorang yang mempunyai kemuliaan yang tinggi, beliau melebur menjadi satu dengan dengan kumpulan jamaah tersebut.

Imam Ali bin Alwi merupakan pemimpin kaum Alawiyin pada zamannya. Beliau diberi kemuliaan dapat melihat dan berdialog langsung dengan Rasulullah saw serta meminta petunjuk ketika beliau menghadapi suatu masalah yang berat. Pada saat beliau sedang membaca: assalamu'alaika ayyuhan nabi warahmatullah wabarakatuh, maka Rasulullah menjawab salamnya: wa alaika salam ya syaikh wa rahmatullahi wabarakatuh. Hal tersebut terjadi tidak saja beliau sedang melaksanakan shalat, tapi juga dalam keadaan di luar shalat.

Syaikh Abdul Wahab al-Sya'rani dalam kitabnya al-Tanbieh mengatakan: 'Salah satu peristiwa yang dihadapi oleh suatu kaum, ketika mereka sholat di samping kubur Nabi dan mereka membaca shalawat Nabi dalam shalatnya itu, mereka mendengar jawaban dari Nabi saw '

Sebagian ulama bertanya: Karomah apa yang diwarisi oleh kaum itu sehingga mereka dapat mendengar salam dari Nabi, padahal tidak satupun dari sahabat yang mendapat jawaban salam dari kubur Nabi setelah beliau wafat, dan saya tidak melihat satupun dari mereka yang sampai pada maqam tersebut.

Sayid Ali al-Khawas berkata: 'Tidak berhak suatu kaum mendapatkan wilayah al-Muhammadiyah, jika orang tersebut tidak berkumpul dan hadir bersama Nabi saw'. Dan sebagian kebesaran Imam Ali bin Alwi, Rasulullah saw berkata kepadanya dengan kata-kata Ya Syaikh. Perkataan tersebut merupakan panggilan dalam wilayah kenabian.

Imam Ali bin Alwi wafat pada tahun 527 hijriyah dan dimakamkan di perkuburan Zanbal, Tarim. Beliau adalah orang pertama dari keluarga Alawiyin yang dimakamkan di di perkuburan Zanbal, Tarim.

12. Muhammad Shahib Marbath.

Imam Muhammad bin Ali dikenal dengan Shahib Marbath. Beliau lahir di Tarim. Ibunya ialah syarifah Fathimah binti Muhammad bin Ali bin Jadid bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Imam Muhammad bin Ali adalah kakek dari semua keturunan keluarga Alawiyin dari dua cabang, yaitu keturunan dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali dan keturunan dari paman al-Faqih Muqaddam yaitu Alwi Ammu al-Faqih.

Imam Muhammad bin Ali Shahib Marbath belajar kepada ayahnya dan beberapa ulama besar di Hadramaut, Yaman, Mekkah, Madinah. Beliau juga hafal Alqur'an, alim, banyak beribadah, mengerjakan amal kebajikan, berkhidmat untuk lingkungannya dan menguasai berrbagai cabang ilmu.

Beliau banyak mencetak ulama, diantaranya Syaikh Saad bin Ali al-Zhufari, Syaikh Ali bin Abdullah al-Zhufari, Syaikh Salim Bafadhol, Syaikh Ali bin Ahmad Bamarwan, al-Qodhi Ahmad bin Muhammad Ba'isa, Syaikh Ali bin Muhammad al-Khatib, Syaikh Muhammad bin Ali Taj al-Arifin, keempat anak beliau dan lainnya.

Imam Muhammad bin Ali tinggal di Tarim dan sering bepergian ke beberapa daerah. Beliau seorang yang dermawan, mempunyai rasa kasih sayang kepada sesama dan peduli terhadap lingkungannya, sampai-sampai beliau menginfaqkan rumahnya yang berjumlah tujuh puluh rumah.

Dari Tarim beliau pindah ke Zhufar. Kepindahannya ke Zhufar kemungkinan disebabkan karena sampainya berita tentang kaum Khawarij di Gaza yang dipimpin oleh Usman bin Ali al-Zanji al-Takriti yang haus akan darah dan membunuh para ulama dan fuqaha. Di antara ulama Tarim yang dibunuh adalah dua bersaudara bernama: Ahmad dan Yahya Ibnu Salim bin Abi Akdar. Terbunuhnya mereka karena keduanya menganut paham Ahlu Sunnah Waljamaah.

Zhufar adalah daerah yang terletak di sebelah Timur Hadramaut, yaitu Zhufar lama. Dan terdapat pula Zhufar Habuzhi dimana nama kota tersebut dinisbahkan kepada Ahmad bin Muhammad al-Habuzhi yang mendiami Zhufar baru. Di Yaman selain Zhufar tersebut terdapat pula Zhufar yang lain yaitu Zhufar San'a dan Zhufar Asrof akan tetapi yang lebih dikenal adalah Zhufar Habuzhi.

Sesudah segala bencana dan kezaliman berlalu dari Hadramaut, maka keluarga Alawiyin menguasai negeri tersebut dan berubahlah negeri itu menjadi negeri yang aman. Setelah itu banyak keluarga Alawiyin yang bepergian keluar Hadramaut di antaranya ke Sawahil, Afrika Timur, Jawa, India dan negeri lainnya.

13. Ali bin Muhammad Shahib Marbath.

Imam Ali bin Muhammad lahir di Tarim dan dibesarkan disana. Beliau ialah ayah dari Imam Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang mempunyai kemuliaan, kedermawanan, selalu mengikuti jalan para ulama Alawiyin sehingga para salafus salihin berkata beliau adalah mataharinya kaum ahlul yakin dan bulannya kaum mujtahidin.

Imam Ali bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan para ulama mujtahidin zamannya. Beliau seorang yang sangat taat dalam beribadah, baik shalat, puasa dan bersedekah, mempunyai akhlaq yang mulia, tawadhu', qana'ah. Imam Ali bin Muhammad wafat tahun 595 hijriyah.

14. Alwi bin Muhammad Shahib Marbath.

Imam Alwi bin Muhammad lahir di Tarim. Beliau adalah seorang ulama besar, pemimpin kaum Arifin, hafal alquran, selalu menjaga lidahnya dari kata-kata yang tidak bermanfaat, dermawan, cinta kepada fakir miskin dan memuliakannya, banyak senyum. Imam Alwi bin Muhammad dididik oleh ayahnya dan belajar kepada beberapa ulama, diantaranya Syaikh Salim Bafadhal, Sayid Salim bin Basri, Syaikh Ali bin Ibrahim al-Khatib.

Beliau wafat pada hari Senin bulan Zulqaidah tahun 613 hijriyah, dimakamkan di perkuburan Zanbal. Beliau dikarunia empat orang anak, yaitu:

Abdullah dan Ahmad (keturunannya terputus), Abdul Malik keturunannya menyebar di India yang dikenal dengan nama Azhomat Khon (leluhur Wali Songo). Abdurahman, keturunannya keluarga al-Bahasyim, al-Bin Semith, al-Bin Thahir, al-Ba'bud Maghfun, al-Bafaraj, al-Haddad, al-Basuroh, al-Bafaqih, al-Aidid, al-Baiti Auhaj.

15. Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam.

Imam Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja'far Ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, Ibnu al-Batul Fathimah binti Rasulullah saw, dikenal dengan al-ustadz al-A'zham al-Faqih al-Muqaddam. Beliau adalah bapak dari semua keluarga Alawiyin, keindahan kaum muslimin dan agama Islam, batinnya selalu dalam kejernihan yang ma'qul dan penghimpun kebenaran yang manqul, mustanbituhl furu' minal ushul, perumus cabang-cabang hukum syara', yang digali dari pokok-pokok ilmu fiqih, syaikh syuyukhis syari'ah (maha guru ilmu syari'ah), imamul ahlil hakikat (pemimpin para ahli hakikat), sayidul thoifah ash-shufiyah (penghulu kaum sufi), murakidz dairatul wilayah ar-rabbaniyah, Qudwatul Ulama al-Muhaqqiqin (panutan para ulama ahli ilmu hakikat), tajul a'imah al-arifin (mahkota para imam ahli ma'rifat), jamiul kamalat (yang terhimpun padanya semua kesempurnaan).

Imam Muhammad bin Ali adalah penutup para wali yang mewarisi maqom Rasulullah saw, yaitu maqom qutbiyah al-kubro (wali quthub besar). Beliau lahir tahun 574 hijriyah di kota Tarim, dididik dengan didikan Tuhannya, hafal alquran, menguasai makna yang tersurat maupun makna yang tersirat dari alquran.

Imam Muhammad bin Ali belajar fiqih Syafii kepada Syaikh Abdullah bin Abdurahman Ba'abid dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Ba'Isa, belajar ilmu ushul dan ilmu logika kepada Imam Ali bin Ahmad Bamarwan dan Imam Muhammad bin Ahmad bin Abilhib, belajar ilmu tafsir dan hadits kepada seorang mujtahid bernama Sayid Ali bin Muhammad Bajadid, belajar ilmu tasawuf dan hakikat kepada Imam Salim bin Basri, Syaikh Muhammad bin Ali al-Khatib dan pamannya Syaikh Alwi bin Muhammad Shahib Marbath serta Syaikh Sufyan al-Yamani yang berkunjung ke Hadramaut dan tinggal di kota Tarim.

Para ulama Hadramaut mengakui bahwa al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali adalah seorang mujtahid mutlaq. Di antara keramatnya adalah: Ketika anak beliau Ahmad mengikuti al-Faqih al-Muqaddam ke suatu wadi di pertengahan malam, maka sesampainya di wadi tersebut beliau berdzikir dengan mengeluarkan suara, maka batu dan pohon serta makhluq yang ada di sekeliling tempat itu semuanya ikut berdzikir. Beliau dapat melihat negeri akhirat dan segala kenikmatannya hanya dengan melihat di antara kedua tangannya, dan melihat dunia dengan segala tipu dayanya melalui kedua matanya.

Di antara sikap tawadhu'nya, ia tidak mengarang kitab-kitab yang besar akan tetapi ia hanya mengarang dua buah kitab yang berisi uraian yang ringkas. Kitab tersebut berjudul Bada'ia Ulum al-Mukasysyafah dan Ghoroib al-Musyahadat wa al-Tajalliyat. Kedua kitab tersebut dikirimkan kepada salah seorang gurunya Syaikh Sa'adudin bin Ali al-Zhufari yang wafat di Sihir tahun 607 hijriyah. Setelah melihat dan membacanya ia merasa takjub atas pemikiran dan kefasihan kalam Imam Muhammad bin Ali. Kemudian surat tersebut dibalas dengan menyebutkan di akhir tulisan suratnya: "Engkau wahai Imam, adalah pemberi petunjuk bagi yang membutuhkannya". Imam Muhammad bin Ali pernah ditanya tentang 300 macam masalah dari berbagai macam ilmu, maka beliau menjawab semua masalah tersebut dengan sebaik-baiknya jawaban dan terurai.

Rumah beliau merupakan tempat berlindung bagi para anak yatim, kaum faqir dan para janda. Jika rumah beliau kedatangan tamu, maka ia menyambut dan menyediakan makanan yang banyak, dimana makanan tersebut tersedia hanya dengan mengangkat tangan beliau dan para tamu untuk berdoa dan meminta kepada Allah swt. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw: "Sesungguhnya para saudaraku jika ia mengangkat tangannya untuk meminta makanan, maka akan tersedia makanan tersebut dalam jumlah yang banyak".

Syaikh Abdurahman Assaqqaf berkata: "Tidak aku lihat dan aku dengar suatu kalam yang melebihi kalam Imam al-Faqih al-Muqaddam kecuali kalam para nabi". Imam al-Faqih al-Muqaddam pernah berkata kepada kaummnya: "Kedudukan saya terhadap kalian seperti kedudukan Nabi Muhammad kepada kaumnya". Di lain riwayat Syaikh Abdurahman Assaqqaf berkata: "Kedudukan aku terhadap kalian seperti kedudukan nabi Isa terhadap kaumnya". Berkata Syaikh al-Kabir Abu al-Ghoits Ibnu Jamil: "Derajat kami tidak akan sampai seperti derajat Imam al-Faqih al-Muqaddam, kecuali hanya sampai setengahnya saja". Dalam salah satu kalimat yang ditulisnya kepada gurunya Syaikh Sa'aduddin, Imam al-Faqih al-Muqaddam berkata: "Aku telah dimi'rajkan ke Sidratul Muntaha sebanyak tujuh kali (di lain riwayat dua puluh tujuh kali)".

Di suatu saat Imam al-Faqih al-Muqaddam duduk bersama sahabatnya, ketika itu nabi Khidir as datang mengunjunginya dengan bentuk seperti pria badui yang kepalanya membawa keju. Maka berdiri Imam al-Faqih al-Muqaddam untuk mengambil keju tersebut lalu memakannya. Para sahabatnya yang hadir saat itu merasa heran dan bertanya: siapa dia? Maka beliau menjawab: Khidir as. Kejadian tersebut menjelaskan bahwa: Allah telah mengangkat derajat al-Faqih al-Muqaddam sebagai seorang ahli hakikat dan ahli kasyaf. Ini terlihat dari isyarat keju yang dimakannya dari kepala nabi Khidir as. Keju tersebut diibaratkan sebagai buah dari hasil mujahadat para wali. Dan dijadika Imam al-Faqih al-Muqaddam bagi para wali seperti kedudukan malaikat Jibril terhadap para nabi. Syaikh Fadhal bin Abdullah Bafadhal berkata: "Banyak dari manusia yang mendapat anugerah dari Imam al-Faqih al-Muqaddam lantaran didikan dan kebaikannya khususnya dua orang syaikh al-kabir Abdullah bin Muhammad Abbad dan syaikh Said bin Umar Balhaf.

Imam Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam berdoa untuk para keturunannya agar selalu menempuh perjalanan yang baik, jiwanya tidak dikuasai oleh kezaliman yang akan menghinakannya serta tidak ada satupun dari anak cucunya yang meninggal kecuali dalam keadaan mastur (kewalian yang tersembunyi).

Beliau seorang yang gemar bersedekah, setiap hari beliau memberi sedekah sebanyak dua ribu ratl kurma kepada yang membutuhkannya, memberdayakan tanah pertaniannya untuk kemaslahatan umum. Beliau juga menjadikan isterinya Zainab Ummul Fuqoro sebagi khalifah beliau. Imam Muhammad bin Ali wafat tahun 653 hijriyah dan dimakamkan di Zanbal, Tarim pada malam Jum'at akhir bulan Dzulhijjah.

16. Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Imam Alwi bin Muhammad lahir di Tarim, beliau dibesarkan dan dididik dalam asuhan ayahnya. Di samping itu beliau juga hafal alquran, mendengar tasbihnya benda-benda mati. Ibunya ummul fuqara Zainab binti al-Faqih Ahmad bin Muhammad Shahib Marbath.

Telah diriwayatkan bahwa Imam Alwi diperintahkan ayahnya mencari rumput untuk makanan kambing, maka ia kembali ke ayahnya dan tidak jadi memotong rumput tersebut, dan berkata: "Bagaimana saya dapat memotong rumput itu, karena ketika ingin memotongnya saya saksikan rumput tersebut sedang bertasbih kepada Allah swt dan saya merasa malu untuk memotongnya".

Imam Alwi bin Muhammad mempunyai wilayah/kekuasaan mutlak yang diberikan oleh Allah swt. Allah telah mengangkat derajatnya dengan memiliki rahasia ketuhanan dan alam barzah, mengetahui kesengsaraan dan kebahagiaan seseorang, sehingga beliau berkata: "Kedudukanku adalah sama dengan kedudukan al-Junaid". al-Junaid adalah seorang pemimpin kaum sufi. Pada suatu hari ayahnya berkata kepadanya dan ketika itu ia masih kecil: "Engkau mengetahui segala kesusahan dan kebahagiaan, maka bacalah apa yang ada di keningku. Maka dibacanya sesuatu yang mengandung kebahagiaan dan diberitahukan kepada ayahnya".

Ketika Rasulullah saw berkunjung kepadanya, ia melihat Khalifah Abu Bakar dan Umar bersama Rasulullah. Imam Alwi berkata kepada Rasul: "Di manakah kedudukan kami di sisimu, wahai kakekku? Rasulullah menjawab: Di mataku. Rasul balik bertanya: Di manakah kedudukanku di sisi kalian wahai Syaikh Alwi? Imam Alwi menjawab: Di atas kepalaku. Maka berkata Khalifah Abu Bakar: Wahai Syaikh Alwi, kakek engkau belum merasa bahagia dengan menjadikan engkau di matanya dan engkau menjadikannya di atas kepalamu. Berkata Imam Alwi: Apa yang harus aku perbuat? Bersedekahlah sebanyak seratus dinar kepada para fuqara". Imam Alwi bin Muhammad selalu melindungi dan mengabulkan hajat orang, menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan , pemaaf.

Ketika ia memperlambat perkawinannya, keturunannya yang masih berada di dalam punggungnya berkata: "Kawinlah, sehingga kami dapat keluar dari punggungmu !". Berkata al-Muhaddits Imam Muhammad bin Ali bin Alwi al-Khirrid Ba'alawi dalam kitabnya al-Ghuror , telah dikabarkan kepada Syaikh Abdurahman bin Ali, seungguhnya kaum ulama al-arifin berkata: "Tiga orang dari keluarga Alawiyin yang cerdik dan doanya mustajab ialah Syaikh Alwi, anaknya Syaikh Ali dan Umar Muhdhar".

Ketika saudaranya Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam wafat, kepada beliau Rasulullah memberinya baju dan memerintahkan untuk memakaikannya sebagai kafan kepada saudaranya. Maka dipakaikannya baju tersebut kepada Syaikh Abdullah dan berkata: "Sesungguhnya saudaraku Abdullah adalah seorang wali quthub pada zamannya". Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam wafat pada malam Senin dua puluh Zulqoidah tahun 662 hijriyah. Beliau tidak mempunyai keturunan kecuali anaknya Muhammad An-nuqo'i dan Fathimah (ibu dari Syaikh Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam). Muhammad An-nuqo'i ialah seorang waliyullah, beliau sering bertemu dengan nabi Khiddir as. Karena rasa takutnya kepada Allah swt beliau sering tidak sadar dan jatuh ke tanah. Imam Alwi bin Muhammad wafat pada hari Jum'at Dzulqoidah tahun 669 hijriyah.

17. Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Imam Ahmad lahir dan dibesarkan di Tarim. Di samping belajar kepada ayahnya, Imam Ahmad juga belajar kepada saudaranya Alwi dan Abdullah, karena beliau adalah anak yang paling kecil dari ayahnya. Beliau juga seorang yang hafal alquran. Imam Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam berkata: "Anakku ada lima. Alwi, Abdullah dan Abdurahman mewarisi dzatku sedangkan Ali dan Ahmad mewarisi sifatku".

Imam Ahmad selalu berjalan di atas thoriqah ayahnya, diantaranya banyak berpuasa, silaturahmi, berdzikir baik malam dan siang, sangat suka beruzlah menghindari diri dari bercampur dengan manusia. Menurut beliau, banyak bercampur dengan manusia mewariskan kebangkrutan amal. Beliau seorang yang zuhud dan tawadhu' terhadap orang yang lebih tua dan yang lebih muda.

Syaikh Sahal bin Abdullah bin Muhammad bin Hikam Baqasyir berkata: "Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah memberi berkahnya kepada nabi Muhammad saw , dan dari nabi diberikan kepada para shalihin dan orang-orang yang berziarah pertama ke makam Sayid Ahmad sambil berkata: Assalamu'laikum wahai sayid Ahmad, engkau telah mendapatkan berkah dari nabi saw dan berkah nabi dari Allah swt".

Imam Ahmad wafat sebagai syahid pada tahun 706 hijriyah, di makamkan dekat masjid al-Arif Billah Syaikh Abdullah bin Ibrahim Baqasyir. Makamnya terkenal di kalangan masyarakat sekitar dan diperbaharui pada awal abad sepuluh.

18. Ali bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Imam Ali bin Alwi lahir di Tarim, beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya. Beliau juga seorang yang hafal alquran. Ibunya bernama syarifah Fathimah binti Ahmad bin Alwi bin Muhammad Shahib Marbath.

Imam Ali bin Alwi seorang yang khawas yang menduduki maqom wali quthub, sering bermujahadah, riyadhoh dan khalwat. Beliau ialah seorang yang menjadi panutan bagi para murid yang menjalankan thoriqah suluk. Beliau sering berziarah ke makam nabi Hud as pada bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan.

Imam Muhammad bin Abi Suud berkata: "Ketika datang suatu kenikmatan dunia kepadanya, maka ia berkata: Ya Allah pindahkanlah aku dari dunia atau pindahkanlah dunia dari aku". Tidak lama kemudian beliau meninggal dunia.

Berkata Syaikh Ibrahim bin Abi Qasyir: "Saya melihat Syaikh Ali bin Alwi dalam mimpiku, maka saya berkata: Apa yang Allah perbuat kepadamu. Maka beliau menjawab: Kepada hamba yang dicintainya, tidak ada satupun yang dapat membuat mudharat kepadanya".

Imam Ali bin Alwi wafat pada hari Rabu tanggal tujuh belas Rajab tahun 709 hijriyah, beliau tidak mempunyai anak kecuali Syaikh Muhammad Maula Dawilah dan enam anak perempuannya: Maryam, Khadijah, Zainab, Asiyah, bahiyah dan Maniyah.

19. Abdullah bin Alwi bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam.

Imam Abdullah bin Alwi lahir di Tarim tahun 738 hijriyah. Beliau belajar tafsir , hadits dan tasawuf kepada kakek dan ayahnya, Imam Ahmad bin Abdurahman bin Alwi bin Muhammad Shahib Marbath, Syaikh Abdullah bin Ibrahim Baqasyir. Beliau seorang yang zuhud, wara' dan menempati maqom wali besar yang terkumpul padanya ilmu-ilmu syariah dan hakikat. Disamping belajar di Tarim, beliau juga belajar kepada Syaikh Umar bin Maimun di Yaman dan setelah itu beliau menunaikan ibadah haji ke Makkah pada tahun 670 hijriyah. Di Makkah, para penduduk di sana meminta kepada Imam Abdullah untuk berdoa agar hujan segera turun di kota itu. Maka dengan izin Allah swt hujan pun turun di Makkah. Banyak penduduk Makkah yang belajar ilmu kalam dan ilmu tasawuf kepadanya.

Setelah lama tinggal di Makkah, penduduk Tarim meminta beliau untuk pulang ke negerinya. Maka ia pun pulang ke Tarim melalui kota Zubaidi dimana kota tersebut banyak berkumpul para ulama besar, kemudian beliau ke kota Taiz dan kota Akur untuk berziarah kepada Syaikh Umar bin Maimun. Akan tetapi ketika sampai di kota tersebut beliau menemukan Syaikh Umar bin Maimun telah meninggal, maka beliau memandikan dan menguburkannya. Sesudah itu beliau ke Tarim.

Imam Abdullah seorang yang bersifat dermawan. Beliau menginfaqkan hartanya untuk keluarga Alawiyin yang ada di Tarim. Syaikh Ali bin Salim menceritakan: "Pada suatu hari beliau mendapat uang sebesar lima ratus dinar, maka dibagikannya uang tersebut kepada keluarganya tanpa meninggalkan sedikitpun untuknya".

Imam Abdullah Ba'alawi adalah seorang yang banyak menangis karena rasa takutnya kepada Allah swt terutama ketika sedang membaca alquran hingga terlihat matanya bengkak. Dan salah satu kebiasaannya, beliau sering beri'tikaf di masjid mulai sebelum subuh sampai terbit matahari. Pada waktu i'tikaf diisi dengan shalat dan membaca alquran. Setelah terbit matahari beliau pulang ke rumah dan beberapa saat kemudian beliau kembali lagi ke masjid untuk mengkaji ilmu sampai waktu sebelum dzuhur. Sesudah itu beliau pulang ke rumahnya untuk tidur sesaat dan beliau beristirahat di rumahnya sampai waktu shalat ashar tiba. Setelah itu beliau shalat ashar berjama'ah di masjid dan bermudzakarah dengan sahabatnya sampai waktu shalat maghrib, setelah shalat maghrib beliau membaca alquran sampai waktu shalat isya' dan setelah shalat isya beliau pulang kerumahnya.

Pada bulan Ramadhan beliau pergi ke masjid untuk shalat tarawih sesudah itu shalat dua rakaat. Dalam shalat itu, beliau membaca alquran sampai khatam. Kemudian beliau kembali ke rumahnya. Ketika waktu sahur tiba, beliau kembali lagi ke masjid hingga waktu shalat dzuhur. Setelah itu beliau mengkaji ilmu sampai waktu ashar.

Syaikh Muhammad Maula Dawilah berkata: "Tidak aku lihat dalam perjalananku dan selama hidupku orang seperti pamanku Abdullah Ba'alawi". Syaikh Abdurahman Assaqqaf berkata: "Para kaum ulama al-arifin bersepakat bahwa Syaikh Abdullah bin Alwi merupakan pemimpin kaum mujtahid yang mempunyai keramat yang khariqah".

Pada saat wafat beliau berumur sembilan puluh tiga tahun. Berkata Syech bin Abdullah Alaydrus: "Tidak ada dari keluarga Ba'alawi yang hidup umurnya melebihi sembilan puluh kecuali hanya tiga orang yaitu al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali, Syaikh Abdullah bin Alwi dan Syaikh Abdurahman Assaqqaf".

Imam Abdullah bin Alwi wafat pada hari Rabu bulan Jumadil 'Ula tahun 731 hijriyah. Pada hari wafatnya banyak orang yang hadir terutama dari kalangan kaum fuqara dan kaum lemah serta anak-anak yatim.

20. Muhammad Maula al-Dawilah.

Imam Muhammad Maula Dawilah lahir di Tarim. Beliau tumbuh dan dibesarkan di sana. Ketika ayahnya meninggal ia masih kecil dan selanjutnya beliau diasuh dan dididik oleh pamannya Syaikh Abdullah. Imam Muhammad Maula Dawilah belajar kepada kaum ulama al-arifin , para fuqaha di Makkah dan Madinah.

Berkata Syaikh Muhammad bin Hasan al-Mualim: "Saya menyaksikan bahwa Syaikh Muhammad Maula dawilah berada dalam kasih sayang Allah swt setelah wafatnya". Suatu hari Syaikh Muhammad Maula dawilah hadir bersama paman dan gurunya Syaikh Abdullah Ba'alawi. Ketika datang waktu shalat, beliau langsung menunaikan shalat tanpa terlebih dahulu mengambil wudhu' dan ketika ditanya kepadanya, Syaikh Muhammad Maula Dawilah berkata: "Demi Allah swt, sesungguhnya saya telah minum dan berwudhu' dengan air di telaga kautsar". Kemudian beliau menggerakkan jenggotnya, maka meneteslah air dari jenggotnya itu. Telaga kautsar adalah salah satu telaga yang berada di surga.

Al-Faqih Ali bin Silim meriwayatkan: Pada suatu hari Syaikh Muhammad Maula Dawilah datang ke rumahnya dan memegang rumah tersebut dengan jari-jarinya. Lalu ia berkata kepada penghuni rumah tersebut: Keluarlah kamu sekalian wahai penghuni rumah. Maka keluar semua yang ada di dalam rumah tersebut. Setelah itu beliau melepaskan tangannya dan menjauh dari rumah itu, maka tidak lama kemudian rumah itu roboh dan semua penghuni rumah tersebut selamat.

Berkata Syaikh Abdurahman Assaqqaf: "Ayahku berkata kepadaku: ketika aku sedang sakit datang dua orang malaikat dengan sebuah bejana dan di dalamnya terdapat sesuatu yang berwarna putih seperti susu, maka aku minum apa yang ada dalam bejana itu sampai habis, rasa cairan yang aku minum lebih manis dari madu. Maka beliau berkata: dari mana cairan ini? Malaikat tersebut menjawab: dari mata air Salsabila.

Sesungguhnya Syaikh Muhammad Maula Dawilah jika sedang membaca alquran tentang ayat-ayat yang berisi berita peringatan, maka kaku lidahnya, cemas dan terlihat di kedua bibirnya seperti terbakar dan beliau selama dua puluh tahun melaksanakan shalat subuh dengan wudhu' isya. Ketika merasa sesaat lagi akan wafat, beliau melihat Rasulullah saw memakaikannya jubah.

Imam Muhammad Maula Dawilah wafat pada hari Senin tanggal sepuluh bulan Sya'ban tahun 765 hijriyah.

21. Abdurahman Assaqqaf bin Muhammad Maula Dawilah.

Imam Abdurahman Assaqqaf lahir di Tarim. Beliau tumbuh dan belajar ilmu di Tarim, Gail, Aden dan daerah lainnya serta membagi waktunya antara Tarim, Syibam, Du'an, Barum dan Aden. Ibunya bernama Aisyah binti Abi bakar bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam yang dikuburkan di Qasam. Beliau ialah seorang penghimpun ilmu-ilmu aqli dan naqli yang dipelajarinya dari Syaikh Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, Syaikh Ali bin Salim At-Tarimi, Syaikh Ali bin Said Basolib, Syaikh Abdullah bin Thohir Ad-Duani, Abu Bakar bin Isa Bayazid (shahib Amud), Syaikh Muhammad bin Abi Bakar Ba'abad Asy-Syibami (Imam Abdurahman Assaqqaf mengunjunginya setiap tahun).

Sedangkan murid-muridnya ialah Sayid Muhammad bin Hasan Jamalullail, Abdurahman bin Muhammad Khatib dan anaknya Syaikh Muhammad bin Abdurahman Khatib, Ahmad bin Umar Shahib Masof, Saad bin Ali Madihij, Abdurahman bin Ali Khatib, Abdullah bin Muhammad Basarahil, Abdullah bin Ahmad al-Amudi dan lainnya yang tersebar di penjuru Hadramaut. Beliau adalah seorang mursyid, membangun masjid dan mewaqafkannya, mengeluarkan infaq untuk kaum lemah, janda dan anak yatim setiap hari.

Syaikh Abdurahman Assaqqag adalah seorang pemimpin para wali al-arifin, seorang waliyullah yang menguasai ilmu ketuhanan yang sempurna, beliau seorang ahli mujahadah, bahkan tidak tidur selama tiga puluh tiga tahun. Ketika ditanya sebabnya, Imam Abdurahman mnejawab: Bagimana aku dapat tidur, bila aku miring ke kanan aku melihat surga dan bila kau miring ke kiri aku melihat neraka. Imam Abdurahman Assaqqaf berkumpul bersama Rasulullah saw dan para sahabatnya di setiap malam Senin, Kamis dan Jum'at sampai beliau wafat. Beliau tidak akan memutuskan suatu hokum sebelum para nabi, sahabat dan auliya' datang kepadanya untuk memutuskan perkara tersebut.

Imam Abdurahman Assaqqaf membaca alquran dalam sehari semalam delapan kali khatam, empat kali khatam di waktu malam hari dan empat kali khatam di waktu siang hari. Pada siang hari beliau dua kali khatam alquran antara waktu subuh dan dzuhur, satu kali khatam antara waktu dzuhur dan ashar yang dibacanya dalam dua rakaat shalat dan satu kali khatam yang dibacanya setelah waktu ashar. Beliau juga sering beribadah di sisi makam nabi Hud as sampai berbulan-bulan hanya dengan memakan segenggam roti.. Tempat beliau beribadah tersebut masih terpelihara sampai sekarang.

Para wali dan kaum ulama sholihin memberikan penghormatan kepada beliau dan mereka menyaksikan bahwa pada zamannya tidak ada satu orang pun yang dapat melebihi kedudukan beliau dari segala sisi. Mereka juga berkata bahwa anak-anak beliau adalah para wali quthub yang agung.

Imam Abdurahman Assaqqaf sering membaca kitab al-Wajiz dan al-Muhazzab dan hampir saja beliau hafal isi kitab tersebut. Beliau membaca kitab tersebut kepada gurunya al-Allamah Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam. Beliau pergi ke Nail dan membaca kitab al-Ihya, Ar-Risalah, al-Awarif kepada al-Faqih Muhammad bin Saad Basyahil dan Syaikh Muhammad bin Abi Bakar Ba'abad. Kemudian beliau pergi ke Aden untuk belajar kepada al-Qadhi Muhammad bin Said Kaban tentang ilmu nahwu dan shorof serta ilmu-ilmu bahasa Arab lainnya. Beliau sangat menguasai ilmu ushul, ma'ani, bayan, tafsir, hadits sehingga mengangkat martabat beliau sebagai seorang guru besar dan ahli ibadah di zamannya. Di samping itu beliau berziarah dan shalat di masjid yang berada di seluruh Tarim pada setiap malam.

Imam Abdurahman Assaqqaf telah mencapai derajat kaum ahli hakikat, beliau telah dipakaikan khirqah yang membentengi dirinya dari tipuan dunia, Allah swt telah menghilangkan sifat cinta dunia dan sifat tercela dari hatinya, sebaliknya Allah swt menggantinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan kesungguhan dalam mengerjakan amalan-amalan hati. Beliau juga seorang petani kurma yang berhasil di Tarim dan Mispalah. Setiap menancapkan satu batang pohon kurma ke tanah, beliau membacakan surat Yasin sampai batang kurma yang akan ditanam habis.

Imam Abdurahman wafat pada hari Kamis tanggal dua puluh tiga Sya'ban tahun 819 hijriyah dan di makamkan pada hari Jum'at pagi.

Kata-kata mutiara Imam Abdurahman Assaqqaf di antaranya:

1. Obatnya hati adalah tidak tergantung pada makhluq.

2. Barang siapa yang tidak mempunyai wirid, maka ia seperti monyet.

3. Barang siapa yang tidak menelaah dan mempelajari kitab ihya, maka ia tidak punya rasa malu.

4. Semua manusia membutuhkan ilmu, ilmu membutuhkan amal, amal membutuhkan aqal, aqal membutuhkan taufiq dan taufiq adalah pemberian Allah swt. Setiap ilmu tanpa diamalkan adalah bathil, setiap ilmu dan amal tanpa iman naik mengawang-awang, setiap ilmu, amal dan iman tanpa cara untuk mengerjakannya ditolak, setiap ilmu, amal, iman dan cara mengerjakannya tanpa sifat wara' maka ia akan rugi.

5. Barang siapa tidak membaca kitab al-Muhazzab, maka ia tidak mengenal kaidah-kaidah madzhab.

22. Abu Bakar As-Sakran bin Abdurahman Assaqqaf.

Imam Abu Bakar As-Sakran lahir di Tarim. Beliau dibesarkan dan dididik dalam rumah kemuliaan, ketaqwaan dan ilmu. Beliau seorang yang hafal alquran dan menamatkannya pada setiap pagi hari. Imam Abu Bakar merupakan kesayangan ayah dan saudara-saudaranya. Beliau dinamakan As-Sakran karena jika sedang beribadah kepada Allah swt melupakan segala aktifitas lainnya tenggelam dalam suasana dzikir kepada Allah swt.

Berkata saudara beliau Syaikh Ahmad bin Abdurahman Assaqqaf: "Saya melihat mahkota guru besar berada di atas kepala saudaraku Abi Bakar". Syaikh Umar Muhdhar berkata: "Jika keluarga Abdurahman Assaqqaf diberi suatu kemuliaan maka cukuplah saudaraku Abu Bakar merupakan kemuliaan itu". Imam Abu Bakar As-Sakran berkata: "Derajatku sama dengan derajat kakekku Muhammad bin Ali al-Faqih al-Muqaddam yang mempunyai maqam auliya". Beliau berkata pula: "Kakekku Ali bin Alwi telah memberi dua keistimewaan kepadaku, pertama aku mempunyai anak bernama Abdullah dan kedua aku mengetahui segala sesuatu yang berada antara Arasy dan Poros Bumi".

Imam Abu Bakar As-sakran adalah seorang yang sangat takut kepada Allah swt, beliau pernah menyendiri mengasingkan diri dari keramaian selama sebelas bulan tidak tidur baik malam maupun siang. Beliau dapat menyaksikan Ka'bah dan apa yang ada di sekelilingnya dari Tarim. Beliau seorang yang selalu tenggelam dalam zikir dan doa kepada Allah swt, bertawassul kepada para auliya' dan selalu bersikap khusnu zhon, banyak mendoakan anak-anaknya.

Syaikh Ali bin Abi Bakar As-Sakran dalam kitabnya 'al-Barkat al-Musyiqah' menyatakan bahwa: "… Beliau adalah salah satu wali besar ahli ma'rifah yang sempurna dalam jalan kefakiran, pemaaf dan penyantun, tempat mengalirnya ilmu-ilmu syariah tanpa bias dibendung, mempunyai kedudukan yang agung, suka berkhalwat, mengetahui alam malakut, dapat melihat para nabi, malaikat dan auliya, alam barzah dan penghuni serta kenikmatannya dengan kedua matanya dan beliau sering sekali berjumpa dengan Rasulullah saw. Penduduk Tarim berkata: "Syaikh Abu Bakar adalah pemberi syafa'at kami pada hari kiamat nanti".

Diantara keramatnya adalah: Dua orang laki-laki datang untuk berziarah ke Tarim. Keduanya sampai tepat pada hari Jum'at, dalam keadaan wajah yang pucat ditambah lagi dengan rasa lapar yang melilit perutnya ingin makan, maka ditemuinya Syaikh Abu Bakar yang saat itu sedang berada di Masjid. Ketika bertemu, Syaikh Abu Bakar langsung berkata kepada kedua tamunya: ambillah apa yang ada di dalam baju ini, maka setelah dibukanya terdapat roti yang masih hangat dan langsung kedua orang itu memakannya sampai kenyang".

Di lain waktu sebagian penduduk Tarim datang untuk berziarah dan menyampaikan maksud mereka yaitu mereka memerlukan gandum dan daging, pada saat itu juga tersedia gandum dan daging yang diminta.

Pada suatu hari seorang lelaki ingin meminang seorang wanita, Syaikh Abu Bakar berkata: "Lelaki ini tidak akan mengawini wanita tersebut, akan tetapi ia akan kawin dengan ibu wanita tersebut. Kejadian tersebut terbukti dengan cerainya ibu wanita itu dengan suaminya dan kawin dengan lelaki yang meminang anak gadisnya.

23. Umar Muhdhar bin Abdurahman Assaqqaf.

Imam Umar Muhdhar lahir di Tarim. Beliau dibesarkan dalam ketaatan kepada Allah swt dan dididik dalam asuhan ayahnya, maha guru kaum shalihin, al-Arif Rabbani, hafal alquran dan kitab Minhaj Ath-Tholibin seperti beliau hafal surat al-fatihah yang ia pelajari dari ayah dan gurunya. Beliau mempunyai daya hafal yang luar biasa, jika ia disodori kitab maka kitab tersebut dihafalnya dalam jangka waktu yang cepat.

Selain kepada ayahnya, beliau belajar fiqih kepada Syaikh Abu Bakar bin Muhammad Bafadhal. Kepada gurunya tersebut beliau mempelajari kitab Minjah, Tanbieh, Ihya dan Tafsir yang hampir saja beliau menghafal kitab-kitab tersebut. Khusus ilmu bathin beliau belajar kepada ayahnya.

Imam Umar Muhdhar seorang yang banyak bermujahadah, riyadhoh dalam amal-amal soleh, meninggalkan kesenangan dan kenikmatan, sedikit makan baik malam maupun siang, bahkan beliau tidak makan kurma selama tiga puluh tahun. Beliau berkata: "Kurma dapat menimbulkan nafsu syahwat, karena itu aku melarang diriku sendiri untuk makan kurma". Beliau menunaikan ibadah haji ke Baitullah selama empat puluh hari perjalanan tanpa merasakan makanan dan air, akan tetapi kekuatannya tidak berkurang dan tidak merasa lelah dalam perjalanan tersebut. Beliau pernah tinggal di sisi makam nabi Hud as selama satu bulan tidak makan kecuali hanya beberapa ekor ikan.

Seperti saudaranya Abu Bakar As-Sakran, beliau juga menguasai ilmu-ilmu tentang ketuhanan dan alam malakut serta rahasia alam gaib. Keadaan tersebut mulai diketahui sejak ayahnya masih hidup. Maka ayahnya berkata: "Kami temukan pada Umar sesuatu yang membuat kami mengetahui bahwa ia termasuk dari golongan auliya' Allah". Beliau berkata: "Sesungguhnya saya telah diberi tiga kedudukan oleh Allah swt, pertama kedudukan Rasulullah saw, kedua kedudukan ayahku Abdurahman, …". Beliau dapat membaca lafadz 'al-Lathief' dalam satu nafas sebanyak seribu kali, begitu juga lafadz 'Ya Hafidz".

Murid-murid Imam Umar Muhdhar yang utama di antaranya Syaikh Abdullah Alaydrus dan saudaranya Syaikh Ali bin Abi Bakar As-Sakran, Syaikh Ahmad bin Abi Bakar, Syaikh Ahmad bin Umar bin Ali bin Umar bin Ahmad bin Muhammad al-Faqih al-Muqaddam, Sayid Husin bin al-Faqih Ahmad bin Alwi, Sayid Muhammad bin Abdullah bin Ali, al-Faqih Muhammad bin Ali Bazaqfam, Syaikh Abu Bakar bin Abi Qubail.

Pada zamannya, tidak ada satu orang pun yang dapat melebihi keutamaannya. Sesungguhnya marah beliau adalah marahnya penguasa langit dan bumi dan ridho beliau adalah ridhonya penguasa langit dan bumi. al-Allamah Muhammad bin Ali bin Alwi Khirid berkata: "Saya mendengar ayahku berkata: Sesungguhnya pada diri Syaikh Umar terpelihara delapan puluh macam karomah".

Berkata Syaikh Abdullah Alaydrus: 'Suatu hari saya mendengar Syaikh Umar berkata: Jika dikumpulkan semua keluarga Ba'alawi yang ada dan ditimbang, maka timbangan tersebut sama dengan timbangan saya seorang diri". Berkata Sulthonah Az-Zubaidiyah: "Saya melihat Syaikh Umar Muhdhar bin Abdurahman berada di suatu qubah dari cahaya yang naik menuju langit dan semua auliya' berada di bawahnya, sedangkan ia di atasnya seperti bintang".

Imam Umar Muhdhar wafat ketika sedang sujud pada shalat dzuhur hari Senin tanggal dua belas Dzulqoidah tahun 833 hijriyah dan di makamkan di Tarim.

24. Abdullah Alaydrus bin Abi Bakar As-Sakran.

Imam Abdullah lahir di Tarim pada tanggal sepuluh Dzulhijjah tahun 811 hijriyah. Kakeknya Abdurahman Assaqqaf merasa senang dengan kelahirannya dan berkata: Dia adalah seorang sufi dan gelarnya Alaydrus. Alaydrus adalah gelar auliya dan nama seorang ahli sufi besar. Beliau pemimpin para sufi di zamannya, sesuai dengan doa ayahnya yang meminta kepada Allah dalam khalwatnya agar memberinya keturunan yang soleh dan berbakti, mempunyai derajat dan nama besar.

Kakeknya wafat ketika ia berusia delapan tahun dan selanjutnya beliau dididik oleh ayahnya dengan didikan yang sempurna. Ketika berusia enam belas tahun ayahnya pun wafat dan selanjutnya beliau dididik oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar dan menikahkan dengan anak perempuannya. Pamannya selalu mengajarkan jalan para ulama sholihin dan memakaikannya pakaian suf, Syaikh Abdullah berkata: "Saya diajari oleh pamanku tentang rahasia nama-nama Allah dan saya belajar pula kepadanya ilmu-ilmu hitungan". Beliau belajar alquran kepada Syaikh Muhammad bin Umar Ba'alawi, belajar fiqih kepada al-Faqih Saad bin Ubaidillah bin Abi Ubaid, Syaikh Abdullah Baharawah, al-Faqih Abdullah Baghusair, al-Faqih Ali bin Muhammad Abi Ammar.

Imam Abdullah mulai bermujahadah ketika berusia tujuh tahun, beliau juga pernah berpuasa selam tujuh tahun dan berbuka hanya dengan tujuh butir kurma, tidak makan apapun selain itu. Beliau berkata: "Pada awalnya aku menelaah kitab-kitab fiqih dan mendorong aku untuk bermujahadah dengan memperbanyak lapar, walaupun ibuku menyuruhku untuk makan". Beliau pernah lebih dua puluh tahun tidak tidur baik malam maupun siang, sehingga derajat beliau menjadi Syaikhul Akbar, beliau selalu menutup diri dari ketenaran.

Murid-murid Imam Abdullah di antaranya saudaranya Syaikh Ali bin Abi Bakar Sakran, Syaikh Umar bin Abdurahman Shahibul Hamra', Syaikh Abdullah bin Ahmad Baaktsir, Sayid Ahmad Qasam bin Ali Syaibah, Syaikh Muhammad bin Ali al-Afif al-Hajrani. Beliau selalu melazimkan membaca kitab Ihya Ulumuddin dan hampir saja beliau hafal kitab tersebut serta menganjurkan kepada murid dan sahabatnya untuk membaca dan mengkajinya. Sebaliknya beliau melarang sahabatnya untuk mengkaji kitab Futuhat al-Makiyyah dan beliau memerintahkan untuk berkhusnu zhon saja kepada Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi bahwa beliau adalah salah satu auliya' Allah.

Berkata Syaikh Jamaluddin Az-Za'faroni: "Syaikh Abdulloh adalah ayat dari ayat-ayat Allah, kakeknya Abdurahman Assaqqaf sangat menyayanginya dan memberi rahasia ilmu kepadanya". Berkata Syaikh Abu Bakar As-sakran: "Anakku Abdullah adalah salah satu sufi besar, bau harum dari harumnya Rasulullah saw, salah satu wali quthub". Sedangkan pamannya Syaikh Umar Muhdhar berkata: "Sesungguhnya aku kawinkan putriku dengan anak saudaraku karena pada beliau terdapat kehormatan semua bani Alawi, beliau telah menjadi wali quthub pada usia tujuh tahun".

Imam Abdullah menginfaqkan hartanya untuk kaum fuqara dan masakin, sangat tawadhu' terhjadap kaum faqir miskin, tegas terhadap para penguasa sehingga para raja cinta dan tunduk kepadanya, lembut perkataannya. Berkata Syaikh Izzudin bin Abdi salam: "Tidak ada orang yang keramatnya sama dengan maqom al-Quthub Ar-Rabbani Abdul Qadir Jailani kecuali Syaikh Ali Husin As-Sadzilli dan Syaikh Abdullah bin Abi Bakar al-Alaydrus". Di antara keramatnya adalah beliau dapat berbicara dengan orang yang telah meninggal dunia, berjalan di atas air, berbicara dengan bahasa hewan, doanya mustajab seketika, melihat sesuatu yang sangat jauh hanya dengan membalikkan hijab, dapat melihat manusia yang mempunyai sifat seperti binatang sebagaimana wujud aslinya.

Kitab yang dibaca di antaranya Tanbieh, Minhaj, Khulashoh. Dalam hal ilmu tauhid dan hakikat, beliau berkata dengan perkataan yang lembut: "Jika aku ingin, aku dapat menafsirkan huruf alif hingga seratus jilid, tapi itu tidak aku lakukan". Beliau mengarang kitab berjudul 'al-Kibrit al-Ahmar' dan mensyarahkan qasidah yang dikarang oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar.

Sebagian ulama kasyaf melihat bahwa Rasulullah saw memuji Syaikh Abdullah dengan pujian yang agung, yaitu: "Abdullah adalah anakku, rahasiaku , darah dagingku, hidupku, tulangku, pewaris sunnahku"

Imam Abdullah Alaydrus wafat pada hari Minggu sebelum waktu zawal tanggal dua belas Ramadhan tahun 865 hijriyah.

25. Ahmad bin Abi Bakar As-Sakran.

Imam Ahmad lahir di Tarim. Beliau dibesarkan dan dididik oleh ayahnya. Beliau juga seorang yang hafal alquran yang ia pelajari dari Syaikh Muhammad bin Umar Ba'alawi. Melazimkan membaca lafadz sahadat tujuh puluh ribu kali setiap harinya. Selain ayahnya beliau dididik oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar. Dari pamannya beliau belajar ilmu fiqih, tasawuf dan ilmu hakikat. Di samping kepada pamannya Imam Ahmad belajar kepada Sayid Muhammad bin Hasan Jamalullail, Syaikh Said Ba'ubaid, keluarga Baqasyir dan keluarga Baharmi dan kepada saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus.

Beliau mahir dalam ilmu hadits, fiqih dan ushuluddin, rahasia nama-nama Allah, ilmu aufaq dan huruf. Murid-murid beliau di antaranya Abu Bakar al-Adeni , sehingga beliau berkata::Sesungguhnya Syaikh Shahabuddin al-Faqih Ahmad bin Syaikh Abu Bakar Sakran adalah berita gembira yang sempurna dan penghulu manusia yang bersih suci, cinta kepada amal kebajikan". Murid yang lainnya adalah Husin bin Abdullah Alaydrus, al-Faqih Abdullah bin Abdurahman Balahij, al-Allamah Muhammad bin Abdurahman Bilfaqih. Imam Ahmad bin Abi Bakar wafat di Lisik tahun 869 hijriyah dikuburkan di Zanbal Tarim.

26. Ali bin Abi Bakar As-Sakran.

Imam Ali lahir di Tarim pada tahun 818 hijriyah, hafal alquran dan membacanya mujawwad dengan dua riwayat yaitu Abi Amru dan Nafi', hafal kitab al-Hawi karangan al-Quzwani (baik kitab fiqah dan kitab nahwu), guru besar ilmu syariat.

Kakeknya meninggal ketika ia berusia tiga tahun. Ketika ibunya mengandung Syaikh Ali, ayahnya Syaik Abu Bakar As-sakran memberitahukan kepada isterinya bahwa anak yang dikandungnya mempunyai maqam yang agung. Syaikh Abu Bakar sakran berkata: "Sesungguhnya ketika anakku sedang dalam kandungan telah terkumpul pada diri Syaikh Ali dua jenis ilmu, akan tetapi hal tersebut masih tersembunyi dan akan terlihat sebelum rambutnya memutih". Dan ketika Syaikh Ali lahir berkata kakeknya: "Sesungguhnya kelahiran anak Abu Bakar adalah kelahiran seorang sufi". Pada malam ke tujuh kelahirannya berkata saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus: "Namakan ia dengan Ali".

Sesudah ayahnya wafat beliau diasuh oleh pamannya Syaikh Umar Muhdhar yang menjaganya dari hal-hal yang merusak serta mendidiknya dengan kebaikan. Ketika pamannya wafat, beliau masuk khalwat dan mendengar suatu perkataan 'Ya ayyuhannafsu mutmainah irji'i ila robbika rodhiyatammardiyah' kemudian beliau keluar dari khalwatnya dan mambaca kitab Ihya Ulumuddin, maka dibacanya kitab tersebut sampai dua puluh lima kali tamat dan pada setiap khatam dalam mambaca kitab , saudaranya Syaikh Abdullah Alaydrus mengundang para fuqara dan masakin untuk mengadakan tasyakuran.

Guru-guru beliau di antaranya Syaikh Saad bin Ali, Syaikh Shondid Muhammad bin Ali Shohib Aidid, belajar fiqih dan hadits kepada al-Faqih Ahmad bin Muhammad Bafadhal. Beliau juga belajar ke Syihir, Gail Bawazir. Di Gail Bawazir beliau belajar kepada para fuqaha dari keluarga Ba'amar, al-Faqih Muhammad bin Ali Ba'adillah. al-Allamah Ibrahim bin Muhammad Baharmiz, Syaikh Abdullah bin Abdullah bin Abdurahman Bawazir, dan tinggal di sana selama empat tahun. Setelah itu beliau pergi ke Aden belajar kepada Imam Mas'ud bin Saad Basyahil, kemudian menunaikan ibadah haji ke Baitillah pada tahun 849 hijriyah dan tinggal di rubat Baziyad serta belajar kepada ulama di kota tersebut. Kemudian beliau ziarah ke makam Rasulullah saw dan membaca kitab al-Bukhori kepada Imam Zainuddin Abi Bakar al-Atsmani di masjid nabawi.

Murid-murid Imam Ali di antaranya anak-anaknya Umar, Muhammad, Abdurahman, Alwi, Abdullah dan Sayid Umar bin Abdurahman Shahibul Hamra', Syaikh Abu Bakar al-Adeni, Syaikh Muhammad bin Ahmad Bafadhal, Syaikh Qasim bin Muhammad bin Abdullah bin Syaikh Abdullah al-Iraqi, Syaikh Muhammad bin Sahal Baqasyir, Syaikh Muhammad bin Abdurahman Basholi.

Imam Ali seorang auliya' yang mempunyai kefasihan lidah, terkumpul padanya keutamaan dan kepemimpinan, beliau juga banyak mengkaji kitab 'Tuhfah' dan mengamalkan isinya, banyak shalat malam dan sesudahnya beliau banyak menangis, qana'ah, tawadhu'. Di antara keramatnya, jika shalat beliau lupa akan kehidupan duniawi dan tidak pernah membicarakan dunia dalam majlisnya. Beliau pernah ditanya oleh gurunya Syaikh Said bin Ali pada keadaan menghadapi sakaratul maut: 'Apa yang engkau tinggalkan? Beliau menjawab hanya kamar ini.

Berkata saudaranya Abdullah Alaydrus: "Orang yang paling dekat hatinya kepada Allah adalah hati saudaraku Ali". Berkata pula Syaikh Abdullah Alaydrus: "Sesungguhnya apayang ada pada diriku karena saudaraku Ali, jika terbenam sinar matahari saudaraku Ali, maka terbenam pula sinar matahariku". Berkata Syaikh Umar Muhdhar kepada anaknya Fathimah sebelum dinikahi dengan Syaikh Ali: "Wahai Fathimah, nanti engkau akan menikah dengan seorang wali quthub".

Syaikh Muhammad bin Hasan Jamalullail berkata: "Dalam shalat aku berdoa kepada Allah swt agar diperlihatkan kepada seseorang yang mempunyai rahasia-rahasia-Nya dalam zaman ini, maka aku melihat dalam mimpiku seorang lelaki mengambil tanganku dan membawanya kepada Syaikh Ali".

Imam Ali seorang yang berjalan di atas thariqah kefakiran yang hakiki, dalam tawafnya beliau berdoa: "Allahummajlni nisfal faqir" , tidak mempunyai perasaan benci kepada satu orang pun, membaca hizib di antara isya dan setelah fajar hingga terbit matahari, beliau hafal alquran dalam waktu empat puluh hari. Kitab yang telah dibacanya: Riyadhus Salihin, Minhajul Abidin, al-Arbain, Risalah al-Qusyairiyah, al-Awarif al-Ma'arif, I'lamul Huda, Bidayatul Hidayah, al-Muqtasid al-Asna, al-ma'rifah, Nasyrul Mahatim, Sarah Asmaul Husna dan lainnya.

Sebagaian ulama berkata: "Sesungguhnya memandang beliau menghilangkan kekotoran jiwa, salah satu keistimewaan beliau dapat meruntuhkan gunung, kedudukan dan rahasia al-Faqih al-Muqaddam terdapat padanya". Berkata Imam Nuhammad bin Ali Khirid: "Memandang beliau adalah obat bagi yang melihat dan perkataannya obat penawar yang mujarrab".

Imam Ali wafat pada hari Minggu tanggal dua belas Asysyuro tahun 895 hijriyah dalam usia 77 tahun.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BIOGRAFI SINGKAT TOKOH ULAMA ALAWIYIN DI HADRAMAUT"

Post a Comment